Senin, 24 Jan 2022 17:52 WIB

BRIN Buka-bukaan Hambatan Vaksin Merah Putih Belum Kunjung Usai

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Hambatan pengembangan vaksin Merah Putih. (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Kepala BRIN, Dr Laksana Tri Handoko, MSc buka suara soal hambatan pengembangan vaksin Merah Putih. Menurutnya, satu hal yang paling krusial dalam proses pembuatan adalah pengalaman para peneliti.

Pasalnya, para periset minim pengalaman untuk membuat vaksin benar-benar dari awal. Setidaknya ada tujuh tim yang tergabung dalam pengembangan vaksin Merah Putih ini yakni dari ITB, dua tim dari UI, kemudian LBM Eijkman, Unpad, LIPI dan juga tim Unair.

"Dalam konteks vaksin Merah Putih, perlu saya sampaikan bahwa problem utama vaksin Merah Putih di Indonesia itu adalah satu yaitu bahwa kita belum memiliki tim yang memiliki pengalaman mengembangkan vaksin dari scratch (secara mandiri)," sebut dia dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI, Senin (24/1/2022).

"Semua tim bekerja keras dengan melakukan percobaan mencoba-coba, karena memang belum pernah ada," sambungnya.

Pengembangan vaksin disebutnya memerlukan jam terbang yang luar biasa. Ditambah lagi fasilitas untuk menguji vaksin berdasarkan standar good manufacture practice (GMP) terbatas.

"Jadi katakanlah fasilitas GMP untuk uji produksi terbatas protein rekombinan misalnya, yang memiliki fasilitas tersebut adalah di, katakanlah Bio Farma,"

"Tapi tentu kami tidak bisa melakukan di Bio Farma terus menerus jika banyak, karena dia juga harus produksi vaksin reguler yang dibutuhkan secara besar-besaran," sambungnya.

Kendala terakhir yakni fasilitas animal BSL-3, tempat untuk melakukan uji pra klinis. Jika uji pra klinis dengan mencit sudah ada, riset dengan hewan uji macaca diakui terkendala.

Ada tempat yang tersedia di ITB tetapi kemudian membutuhkan renovasi dan sampai dengan akhir tahun sudah dilakukan renovasi dengan pembiayaan Kemenristek BRIN, tetapi belum terverifikasi.

"Untuk itulah BRIN berupaya membangun fasilitas GMP untuk produksi terbatas. Termasuk animal BSL 3 macaca dengan kapasitas 80 ekor dan ini sama sekali tidak murah," pungkas dia.

Lihat juga video 'Pengalaman Vaksinasi Booster di JIExpo Kemayoran':

[Gambas:Video 20detik]





Simak Video "Kata Satgas soal Vaksin Covid-19 Umat Islam Akan Diganti yang Halal"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)