Rabu, 26 Jan 2022 12:22 WIB

Diselidiki WHO, Seberapa Bahaya BA.2 yang Dijuluki 'Son of Omicron'?

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Virus Corona Varian Delta Melonjak di RI, Ini Fakta-faktanya Soal varian BA.2 yang diselidiki WHO. (Foto ilustrasi: Getty Images/loops7)
Topik Hangat Son of Omicron
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mulai menyelidiki versi baru varian Omicron yaitu BA.2. Penyelidikan tersebut dilakukan untuk mengetahui karakteristik dari varian ini.

"Galur BA.2, yang berbeda dengan BA.1 (varian asli Omicron) di beberapa mutasi, termasuk spike protein, meningkat di banyak negara," tulis WHO yang dikutip dari The Washington Post, Rabu (26/1/2022).

"Penyelidikan karakteristik BA.2 termasuk sifat lolos kekebalan dan virulensi, harus diprioritaskan secara independen (dan secara komparatif) dengan BA.1," lanjutnya.

Seberapa Bahaya Varian BA.2 Ini?

Para ilmuwan dari Massachusetts mengatakan bahwa varian BA.2 yang disebut juga sebagai 'Son of Omicron' ini seharusnya tidak membuat panik. Varian ini diperkirakan akan tetap relatif lebih ringan.

"Saya tidak berpikir itu akan menyebabkan tingkat kekacauan dan gangguan, morbiditas dan mortalitas seperti yang dilakukan BA.1," kata spesialis penyakit menular di Rumah Sakit Umum Massachusetts di Boston, Dr Jacob Lemieux, dikutip dari USA Today, Rabu (26/1/2022).

"Saya sangat optimis bahwa kita akan terus bergerak ke tempat yang lebih baik," imbuhnya.

Menurut Dr Lemieux, belum jelas apakah BA.2 ini bisa menggantikan varian BA.1 yang kini masih mendominasi. Belum ada informasi terkait seberapa besar dampaknya terhadap jumlah kasus, rawat inap, hingga kematian.

Peneliti lainnya yang merupakan seorang profesor kedokteran molekuler, biokimia dan farmakologi molekuler di UMass Medical School, Jeremy Luban, mengatakan baru sedikit informasi yang diketahui soal varian ini. Menurutnya, masih terlalu dini untuk mengetahui apakah BA.2 mampu lolos dari perlindungan yang diberikan vaksin atau obat yang ada.

"BA.2 juga memiliki mutasi yang tidak ditemukan pada BA.1, yang dapat membatasi efektivitas antibodi monoklonal. Kami juga tidak tahu apa arti penting dari mutasi ini, terutama pada populasi yang disebabkan BA.1," jelasnya.

Meski begitu, direktur Institut Ragon MGH, MIT dan Harvard yang berfokus pada penelitian imunologi, Dr Bruce Walker, masih optimistis bahwa sel T atau kekebalan yang ada di dalam tubuh masih bisa mencegah penyakit setelah mendapatkan vaksinasi. Ini juga kemungkinan masih akan efektif melawan BA.2.

"Sel T yang mungkin memiliki pengaruh besar pada perjalanan penyakit begitu seseorang terinfeksi," katanya.

"Ini menggembirakan bahwa setidaknya dari sisi sel T, yang mungkin tidak terlindungi dari infeksi, tetapi (dengan vaksin) bisa membantu mengurangi penyakit yang disebabkannya," ujar Dr Walker.

Bagaimana varian BA.2 Bisa Menyebar Luas?

Para peneliti mengatakan untuk bisa menyebar luas, sebuah varian atau virus harus memiliki kemampuan lebih menular atau memang hanya faktor keberuntungan saja.

"Kami tidak tahu faktor apa yang mendorong penyebaran BA.2, apakah itu kebetulan, apakah itu secara intrinsik lebih menular, apakah itu lebih menular dalam konteks kekebalan alami terhadap BA.1, itulah jawaban kami dan akan mulai pulih dalam beberapa minggu mendatang," kata Dr Lemieux.

"Butuh waktu untuk mencari tahu saat kita melihatnya dalam konteks yang berbeda saat menyebar," pungkas Luban.

Pada kenyataannya, Dr Lemieux memperkirakan varian BA.2 ini akan terus menyebar selama beberapa minggu di beberapa tempat di dunia. Tetapi, ia sangat optimistis vaksin dan obat-obatan yang ada saat ini bisa mengendalikannya.



Simak Video "Malaysia Konfirmasi Kasus Varian Omicron, Masuk Sebelum Afrika"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)
Topik Hangat Son of Omicron