Jumat, 28 Jan 2022 12:00 WIB

WHO Kena Skandal! Tapi Kali Ini Bukan Soal COVID-19

Ayunda Septiani - detikHealth
Geneva, Switzerland - December 03, 2019: World Health Organization (WHO / OMS) Logo at WHO Headquarters Foto: Getty Images/diegograndi
Jakarta -

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali membuat heboh. Kali ini bukan terkait laporan COVID-19 ataupun soal varian Omicron, melainkan adanya kasus rasisme.

Lembaga PBB tersebut dituding telah membiarkan terjadinya rasisme. Laporan pun telah dikirimkan ke kantor pusat WHO di Jenewa.

Isu ini bermula dari laporan Associated Press (AP). Seorang narasumber mengaku telah terjadi atmosfer pekerjaan yang buruk di WHO Filipina.

Ini melibatkan dewan eksekutif WHO di sana, yakni dokter asal Jepang Takeshi Kasai. "Pemimpin otoriter yang kasar dan rasis," bunyi email itu, dikutip dari laman AP.

Dalam laporan tersebut, Kansai juga disebut telah salah mengelola pandemi. Ia melakukan pemborosan pengeluaran dana, menyalahgunakan kekuasaannya untuk mengamankan pemilihannya kembali, dan nepotisme dalam memilih staf.

"Mereka meminta intervensi, mendesak negara-negara anggota dewan untuk mengatasi kekhawatiran ini," laporan media Prancis itu.

WHO sendiri mengaku akan membuat penyelidikan, dan menegaskan telah mengetahui tuduhan itu dan sedang mengambil langkah-langkah untuk menindaklanjutinya.

Kansai membantah tuduhan tersebut. Namun, ia mengaku memang keras terhadap staf.

"Saya banyak bertanya pada diri sendiri, dan staf kami. Ini terutama terjadi selama respons Covid-19. Tapi itu tidak boleh membuat orang merasa tidak dihargai," tambahnya membela diri.

"Saya berkomitmen untuk membuat perubahan yang akan memastikan lingkungan kerja yang positif bagi semua tenaga kerja WHO di wilayah kami."

Dalam laporan itu juga disebut bahwa Kasai secara teratur memberikan data rahasia kepada Jepang tentang kebutuhan vaksinasi COVID-19 di negara-negara anggota regional lainnya sehingga Tokyo dapat mengambil manfaat dalam sumbangan diplomatik dosis.



Simak Video "WHO Jelaskan Penyebab Kasus 'Florona' Bisa Terjadi"
[Gambas:Video 20detik]
(ayd/kna)