Jumat, 28 Jan 2022 14:40 WIB

Alami Hari Paling Mematikan, Begini Kondisi COVID-19 Omicron di Australia

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Transferring a patient from the emergency area into the ICU Australia mengalami hari paling mematikan karena COVID-19. (Foto ilustrasi: Getty Images/Tempura)
Jakarta -

Australia mengalami hari paling mematikan COVID-19. Per Jumat, kasus kematian hampir mencapai 100 orang. Meski begitu, beberapa negara bagian Australia memperkirakan angka keterisian pasien COVID-19 di RS bakal mulai mereda.

Varian Omicron menjadi biang kerok Australia menghadapi wabah terburuk sejak pandemi. Pasalnya, kasus harian meledak dalam kurun waktu empat minggu terakhir, dengan total sekitar dua juta kasus COVID-19.

Negara itu kemudian sempat mengalami kenaikan kasus Corona tertinggi, menembus 400.000 kasus. Namun, kini tingkat rawat inap relatif stabil dalam beberapa hari terakhir.

Meningkatkan harapan wabah terburuk bisa segera berakhir.

"Secara umum situasinya stabil ... dan kami memperkirakan penurunan lebih lanjut (dalam kasus rumah sakit)," kata Kepala Dinas Kesehatan negara bagian Queensland John Gerrard selama konferensi pers, saat kasus rumah sakit di negara bagian itu turun untuk hari ketiga berturut-turut menjadi 818.

Tetapi dia memperingatkan 5 juta penduduk negara bagian itu bahwa pandemi masih jauh dari selesai. "Jadi jangan pergi keluar dan merayakannya karena mulai menurun, pertahankan situasi ini," katanya.

Rawat inap tetap stabil di sekitar 5.000 pasien selama beberapa hari terakhir. Pemodelan baru yang dirilis New South Wales, negara bagian Australia terpadat, menunjukkan jumlah orang di unit perawatan intensif berada di bawah angka yang diprediksi dalam skenario kasus terbaik.

Per Jumat, ada 98 kasus kematian baru, melebihi angka tertinggi selama pandemi sebelumnya, 87 hari lalu. Lebih dari 40.000 kasus baru dilaporkan, menjadi rekor harian terendah dalam hampir sebulan.

Total kematian COVID-19 di negara berpenduduk 25 juta itu kini menjadi 3.500 orang. Jauh lebih rendah daripada jumlah yang dilaporkan di banyak negara.

Australia menjadi salah satu negara yang paling banyak melakukan vaksinasi kepada warganya, lebih dari 93 persen populasi dewasa sudah mendapat vaksinasi lengkap. Sekitar dua pertiga warga Australia yang sudah memenuhi syarat divaksinasi booster juga sudah disuntik, menurut data resmi.

Therapeutic Goods Administration (TGA), regulator obat negara itu, pada hari Jumat memperluas kelayakan vaksinasi booster, untuk usia 16 dan 17 tahun, menyusul kebijakan yang dilakukan di Amerika Serikat, Israel dan Inggris.



Simak Video "Komunitas Relawan di Shanghai Turun Tangan Bantu Warga yang Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)