ADVERTISEMENT

Minggu, 30 Jan 2022 17:24 WIB

Fakta-fakta Terapi Metadon yang Dijalani Pelaku Modus 'Tabrak Lari' di Jaktim

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Pelaku modus pura-pura jadi korban tabrak lari di Pasar Rebo, Jakarta Timur (Tangkapan Layar) Pelaku pemerasan modus 'tabrak lari' disebut menjalani terapi metadon (Tangkapan Layar)
Jakarta -

Polisi baru saja menangkap pelaku modus tabrak lari di Pasar Rebo, Jakarta Timur, berinisial AF (46). Usai diselidiki, rupanya sang pelaku sempat menjadi pengguna aktif heroin.

"Yang bersangkutan pernah pengguna aktif heroin," ujar Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Budi Santoso, Minggu (30/1/2022), dikutip dari detikcom.

Menurut Budi, pelaku sengaja melakukan pemerasan dengan modus tabrak lari lantaran membutuhkan uang untuk membeli obat-obatan.

Hingga kini polisi mengungkap bahwa pelaku sedang menjalani terapi metadon untuk mengatasi kecanduan heroin atau putaw.

"Butuh uang untuk membeli obat-obatan, yang lagi melaksanakan terapi metadon," ucap Budi.

Berkaca dari peristiwa tersebut, lantas, apa sih yang dimaksud dengan terapi metadon? Dikutip dari berbagai sumber, berikut fakta-fakta terkait terapi metadon yang perlu diketahui.

Apa Itu Terapi Metadon?

Dikutip dari WebMD, metadon adalah bagian dari kategori obat disebut opioid. Obat ini diciptakan oleh seorang dokter asal Jerman pada saat Perang Dunia II dan dipakai untuk mengobati orang yang memiliki rasa sakit luar biasa.

Metadon juga bisa digunakan sebagai terapi substitusi untuk mengatasi kecanduan narkoba. Dikutip dari laman resmi Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Bandung, Puskesmas Kuta I, terapi substitusi yang disebut Program Terapi Rumatan Metadon (PTRM) ini bertujuan untuk menggantikan penggunaan zat seperti heroin atau morfin.

Meskipun metadon satu golongan dengan heroin dan morfin, namun obat ini mudah dicerna secara oral atau diminum. Berbeda dengan golongan obat opioid lain yang harus digunakan dengan cara disuntik untuk mendapat hasil.

Cara Kerja Metadon

Metadon sendiri berfungsi menekankan susunan saraf pusat dan mempunyai efek penghilang rasa sakit yang kuat. Efeknya lebih lambat dibandingkan dengan obat lain seperti morfin. Dokter biasanya akan meresepkan metadon jika seseorang merasa sangat kesakitan akibat kondisi tertentu, seperti cedera, operasi, atau penyakit jangka panjang.

Selain itu, obat ini juga menghalangi rasa teler akibat konsumsi heroin, hidrokodon, korfin, dan oksikodon. Sifatnya pun hampir mirip dengan narkotika, itu mengapa terapi putus obat dengan metadon ini dapat mencegah seseorang mengalami sakaw.

Efek Samping Metadon

Apabila digunakan untuk jangka pendek, metadon dapat menimbulkan sejumlah efek samping, seperti:

  • Kegelisahan
  • Sakit perut atau muntah
  • Pernapasan lambat
  • Kulit yang gatal
  • Berkeringat banyak
  • Sembelit
  • Masalah seksual
  • Penambahan berat badan
  • Perubahan tidur
  • Perubahan nafsu makan
  • Sakit kepala
  • Sakit perut
  • Mulut kering
  • Perubahan suasana hati
  • Masalah penglihatan

Ada juga efek samping yang tergolong serius dan membutuhkan penanganan dokter segera:

  • Kesulitan bernapas
  • Pingsan atau pusing
  • Gatal-gatal atau ruam
  • Bengkak di bibir, lidah, tenggorokan, atau wajah
  • Nyeri dada atau detak jantung yang cepat
  • Halusinasi atau kebingungan
  • kejang
  • Suara serak
  • Kesulitan menelan
  • Kantuk parah
  • Periode menstruasi yang tidak teratur

Manfaat Metadon untuk Pengguna Narkoba

Dikutip dari laman resmi Dinas Kesehatan Pemerintah Kabupaten Bandung, Puskesmas Kuta I, metadon dapat memberikan kualitas hidup yang jauh lebih baik sehingga seseorang akan lebih aktif dalam kehidupannya sehari-hari. Namun, sebelum mendapat terapi metadon, seseorang harus melewati beberapa tahapan. Tahap pertama adalah menentukan apakah seseorang termasuk ke dalam kriteria PTRM, yaitu:

  • Harus memenuhi kriteria ICD-X untuk ketergantungan opioid
  • Usia 18 tahun atau lebih. Apabila belum 18 tahun harus mendapat second opinion dari professional medis lain
  • Mengalami ketergantungan opini dalam jangka waktu 12 bulan terakhir
  • Sudah pernah mencoba berhenti menggunakan opioid minimal satu kali

Kriteria Eksklusi

  • Klien dengan penyakit fisik yang berat
  • Psikosis yang jelas
  • Retardasi mental

Tahapan kedua adalah pemberian konseling terutama tentang adiksi dan membuat rencana perawatan, serta tahapan ketiga adalah pemberian dosis. Terdapat empat tahap pemberian dosis, yaitu dosis awal, dosis pada fase stabilisasi, dosis pada fase rumatan, dan dosis pada fase reduksi. Pemberian dosis ini pun disesuaikan dengan ketentuan yang berlaku.

Simak Video 'Pelaku Modus "Tabrak Lari" di Jaktim Terancam 4 Tahun Bui':

[Gambas:Video 20detik]



(suc/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT