ADVERTISEMENT

Jumat, 04 Feb 2022 09:30 WIB

Luhut Tolak Usul Anies PTM Disetop Sebulan, Pakar Singgung Risikonya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Apa itu PJJ dan PTM? Keduanya merupakan istilah yang merujuk pada pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar di masa pandemi COVID-19 ini. Sekolah tatap muka. (Foto: A.Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan sebelumnya mengusulkan pembelajaran tatap muka (PTM) disetop selama sebulan, usai kasus Omicron terus merangkak naik. Namun, usulan tersebut ditolak Menko Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Pemprov DKI Jakarta akhirnya tetap melanjutkan pembelajaran tatap muka, tetapi dengan kapasitas 50 persen. Pakar menyayangkan kebijakan tersebut, lantaran DKI Jakarta bak wilayah perang dalam melawan COVID-19.

Terlebih, banyak anak masuk kelompok rentan karena belum divaksinasi.

"Karena yang paling rawan memang anak-anak di DKI saat ini, terutama 6 tahun ke bawah kan belum divaksin," terang ahli epidemiologi Dicky Budiman dari Universitas Griffith Australia kepada detikcom Jumat (4/2/2022).

"Usulan Gubernur DKI sebetulnya relatif tepat untuk satu bulan 100 persen PTM ditunda dulu, karena untuk konteks Jakarta yang kecepatannya saat ini jadi battleground kan," sambungnya.

Prediksi Dicky, jika PTM terus dilanjut kemungkinan bakal banyak staf hingga guru yang ikut terpapar. Pada akhirnya, berpengaruh juga pada kegiatan pembelajaran.

Ditambah lagi, anak yang sudah divaksinasi masih ada risiko tertular meskipun tidak bergejala. Hal ini bisa membawa potensi bahaya ke usia dewasa dengan riwayat penyakit penyerta.

"Dan anak-anak ini bisa terinfeksi serius, ada dampak long COVID-19, meskipun kalau sudah divaksinasi jadi berkurang risikonya. Kemudian anak ini meskipun sudah divaksinasi masih ada risiko menularkan pada orang dewasa, ia bisa membuat dampaknya panjang. Kakeknya misalnya terinfeksi kemudian fatal meninggal, nah tren ini terjadi sekarang di Eropa dan Amerika," tegas Dicky.

"Harus diingat guru pun banyak yang dalam potensi risiko tinggi, nanti akan ada banyak yang sakit, isoman. Kalau sakit semua siapa yang ngajar? Nggak akan ada yang ngajar," pesan dia.

Meski Dicky menegaskan dunia masih sulit mencari formula yang ideal dalam kebijakan penanganan COVID-19, meminimalisir risiko adalah jalan keluar paling aman dalam memerangi wabah.

Ia juga mengusulkan pengurangan aktivitas di sektor lainnya seperti perkantoran. Menurutnya, tren kasus COVID-19 bisa ditekan jika pembatasan merata di semua sektor, tidak hanya sekolah.

Simak video 'Epidemiolog Wanti-wanti PTM Segera Disetop Sebelum Terlambat':

[Gambas:Video 20detik]



(naf/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT