Jumat, 04 Feb 2022 18:29 WIB

Hari Kanker Sedunia 2022

10 Jenis Kanker Anak Terbanyak di Dunia, Leukemia hingga Sarcoma

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Colorful cancer ribbons as Health symbols for all types of cancers with copy area Hari Kanker Sedunia 2020 (Foto: Getty Images/iStockphoto/EJGrubbs)
Jakarta -

Kanker merupakan salah satu masalah kesehatan tertinggi di dunia maupun di Indonesia. Penyakit yang mematikan ini tak hanya menyerang orang dewasa, tetapi juga menyerang anak-anak. Lantas, apa saja jenis kanker pada anak?

Berdasarkan data GLOBOCAN 2018 yang disampaikan oleh dr Elvieda Sariwati, M.Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI) pada temu media daring, Rabu (02/02/2022), leukemia atau kanker darah menjadi salah satu jenis kanker terbanyak yang dialami oleh anak-anak di seluruh dunia.

Meskipun demikian, penyebab kematian paling tinggi pada anak adalah kanker otak dan non-hodgkin lymphoma atau kanker kelenjar getah bening.

"Yang paling banyak adalah leukemia, tapi yang menyebabkan kematian paling banyak adalah kanker pada otak dan non hodgkin lymphoma atau kanker kelenjar getah bening," tutur dr Elvieda.

Jenis Kanker Anak di Dunia

Selain itu, masih ada lagi kanker yang menyerang anak-anak. Berikut 10 jenis kanker anak di dunia berdasarkan data GLOBOCAN 2018:

  1. Leukemia atau kanker darah estimasi mencapai lebih 80.000 kasus
  2. Kanker otak (brain, nervous system) estimasi mencapai lebih dari 30.000 kasus
  3. Kanker kelenjar getah bening (non hodgkin lymphoma) estimasi mencapai lebih dari 25.000 kasus
  4. Kanker hodgkin lymphoma estimasi mencapai lebih dari 19.000 kasus
  5. Kanker ginjal (kidney) estimasi mencapai lebih dari 18.000 kasus
  6. Kanker tiroid estimasi mencapai lebih dari 10.000 kasus
  7. Kanker testis estimasi mencapai lebih dari 8.000 kasus
  8. Kanker hati (liver) estimasi mencapai lebih dari 6.000 kasus
  9. Kanker ovarium estimasi mencapai lebih dari 4.000 kasus
  10. Kaposi sarcoma atau kanker yang berasal dari sel-sel endotel estimasi mencapai lebih dari 3.000 kasus

Lantaran di Indonesia kasus kanker anak paling tinggi adalah kanker darah (leukemia), dr Elvieda mengungkap tiga pilar untuk strategi penanggulangan kanker pada anak di Indonesia, yaitu promosi kesehatan untuk sasaran anak usia 0-19 tahun, deteksi dini, dan tatalaksana kasus atau mendapatkan kemoterapi lini pertama.

"Ini adalah strategi kita yaitu pada tahun 2024 diharapkan 80 persen anak usia 0-19 tahun itu dapat dideteksi. Kemudian 100 persen terdiagnosis segera, dan 100 persen mendapatkan kemoterapi lini pertama untuk kanker leukemia atau kanker darah," ungkap Elvieda.



Simak Video "Pentingnya Sosialisasi Deteksi Kanker pada Anak Sejak Dini"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)