Senin, 07 Feb 2022 14:31 WIB

Pasien COVID-19 Boleh-boleh Saja Pakai Obat Warung, tapi Begini Catatan Dokter

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus transmisi varian Omicron di DKI Jakarta terus merangkak naik. Meski kasus COVID-19 naik, penjualan obat-obatan di Pasar Pramuka masih cenderung stabil. Pesan dokter paru perihal penggunaan obat warung untuk pasien COVID-19 isoman. Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Banyak pasien COVID-19 varian Omicron mengalami gejala yang mirip dengan flu biasa. Di antaranya berupa batuk, hidung meler dan tersumbat, serta sakit kepala. Obat untuk sederet gejala tersebut tak sulit diperoleh di warung-warung. Namun, kapan pasien COVID-19 boleh dan tidak boleh mengkonsumsi obat warung tersebut?

Menurut spesialis paru RS Persahabatan dan Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Erlina Burhan, SpP(K), pasien COVID-19 sebenarnya boleh-boleh saja mengkonsumsi obat warung. Akan tetapi, obat tersebut hanya untuk mengatasi gejala, bukan menyembuhkan infeksi virus Corona.

Perlu dicatat, istilah 'obat warung' merujuk pada golongan obat yang dikategorikan 'obat bebas' dan bisa dibeli tanpa resep dokter. Kategori ini ditandai dengan lingkaran berwarna hijau pada kemasannya.

Contohnya, obat parasetamol yang dijual di warung-warung bisa dikonsumsi untuk meredakan gejala demam. Kemudian, obat batuk juga bisa dibeli masyarakat di warung untuk meredakan gejala batuk pada pasien COVID-19. Mengingat dr Erlina juga menyinggung, batuk kering adalah salah satu gejala paling banyak dialami pasien varian Omicron.

"Kalau tidak ada gejala kemudian, tidak ada gejala kita tidak perlu obat antivirus. Dikatakan cukup istirahat, isolasi mandiri dengan vitamin yang dianjurkan dari kami organisasi profesi adalah vitamin C dan vitamin D," terang dr Erlina pada detikcom dalam program e-Life, Jumat (4/2/2022).

"Tapi kalau ada bergejala, kami minta juga diberikan obat-obatan yang ada meredakan gejala. Contohnya demam, minum parasetamol. Kalau batuk, minum obat batuk," sambungnya.

Namun jika tujuannya untuk menyembuhkan infeksi virus Corona, dr Erlina menyebut, diperlukan obat antivirus yang tidak bisa diperoleh di warung-warung.

"Kalau antivirus kan nggak bisa dibeli di warung," beber dr Erlina lebih lanjut.

"Kalau ada boleh untuk mengatasi gejala. Tapi kalau untuk kesembuhan, sebaiknya kalau bergejala memakai antivirus," pungkasnya.

Sebagai contoh, di dalam paket obat yang disediakan Kementerian Kesehatan untuk pasien COVID-19 isolasi mandiri, khususnya yang bergejala, terdapat obat Favipiravir atau Molnupiravir yang tidak bisa diperoleh di warung.

Berikut isi paket obat gratis pasien COVID-19 isolasi mandiri dalam paket obat Kemenkes sesuai gejala yang dikeluhkan:

Pasien Tanpa Gejala (Paket A)

  • Multivitamin C, B, E, dan Zinc 10 tablet.

Pasien Bergejala Ringan (Paket B)

  • Multivitamin C, B, E, dan Zinc 10 tablet
  • Favipiravir 200 mg 40 kapsul, atau Molnupiravir 200 mg - 40 tab (bukan 'obat warung', hanya bisa digunakan dengan resep dokter)
  • Paracetamol tablet 500 mg (jika dibutuhkan)


Simak Video "Omicron Identik dengan Batuk Kering dan Kelelahan"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)