Waspada! Nyeri Bahu-Punggung Bisa Jadi Tanda Terinfeksi Omicron

ADVERTISEMENT

Waspada! Nyeri Bahu-Punggung Bisa Jadi Tanda Terinfeksi Omicron

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Rabu, 09 Feb 2022 08:00 WIB
Strips of newspaper with the words Omicron and Covid-19 typed on them. Omicron variant of COVID-19. Black and white. Close up.
Waspada, nyeri pada bahu hingga punggung bisa jadi gejala COVID-19 Omicron. (Foto: Getty Images/iStockphoto/Professor25)
Jakarta -

Meski secara umum sama, gejala pada varian Omicron ada yang khas pada beberapa pasien. Salah satu gejala Omicron yang wajib diwaspadai adalah munculnya rasa nyeri yang tidak biasa sendi, terutama pada bagian bahu dan punggung.

National Health Service (NHS) mengungkapkan bahwa masalah sendi dan otot yang umumnya terjadi pada bahu, leher, punggung, dan lutut bisa jadi gejala COVID-19, termasuk juga varian Omicron. Banyak orang yang melaporkan rasa sakit atau nyeri yang dirasakan bisa muncul dan hilang untuk sementara waktu.

"Orang-orang memberi tahu kami masalah paling umum setelah terinfeksi COVID-19 adalah masalah bahu dan punggung, tetapi masalah sendi dan otot dapat terjadi di bagian tubuh mana pun," kata pihak NHS yang dikutip dari Express UK, Rabu (9/2/2022).

"Beberapa orang memiliki rasa sakit yang meluas yang dapat muncul dan hilang untuk sementara waktu. Beberapa orang juga memiliki rasa aneh atau berubah seperti mati rasa atau kesemutan dan kelemahan pada lengan atau kaki," lanjutnya.

Selain itu, data dari aplikasi ZOE Covid Symptoms Study juga menunjukkan bahwa nyeri otot yang tidak biasa bisa menjadi salah satu gejala COVID-19. Rasa nyeri yang terjadi bisa muncul bersamaan dengan rasa lelah di tubuh.

"Nyeri otot terkait COVID-19 dapat berkisar dari ringan hingga sangat berat, terutama ketika terjadi bersamaan dengan kelelahan. Bagi sebagian orang, nyeri otot ini mengganggu aktivitas sehari-hari," kata para ilmuwan ZOE.

Para ilmuwan ZOE mengungkapkan nyeri otot dan sendi yang tidak biasa ini bisa menjadi gejala awal dari COVID-19, yang sering muncul di awal setelah terinfeksi.

"Biasanya, itu berlangsung selama rata-rata dua hingga tiga hari. Tetapi, bisa berlangsung lebih lama untuk hilang seiring bertambahnya usia,"

  • Pada usia anak-anak, gejala ini bisa bertahan hingga empat hari.
  • Pada usia 16-35 tahun, gejala ini bisa bertahan selama lima hari.
  • Pada usia 35-65 tahun, gejala ini bisa bertahan hingga tujuh hari.
  • Pada usia di atas 65 tahun, gejala ini bisa bertahan hingga delapan hari.

Namun, tak jarang nyeri otot yang berkaitan dengan COVID-19 ini bisa bertahan lebih lama. Bahkan ini biasanya dilaporkan pada orang-orang yang mengalami long Covid yang tetap mengalami gejala hingga waktu yang alami setelah sembuh.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT