ADVERTISEMENT

Rabu, 16 Feb 2022 17:30 WIB

Omicron di Mana-mana Lebih Ringan, Kok di Jepang Jadi Lebih Mematikan?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Gelaran Olimpiade Tokyo 2020 terus bergulir meski berada di tengah pandemi, penasaran dengan aturan pencegahan COVID yang dilakukan Jepang? Begini gambarannya. Gelombang Omicron di Jepang. (Foto ilustrasi: AP Photo)
Jakarta -

Varian Omicron di banyak negara umumnya memicu gejala COVID-19 ringan, kasus rawat inap COVID-19 relatif lebih rendah dibandingkan 'amukan' COVID-19 varian Delta. Hal serupa juga dilaporkan di Indonesia, tetapi tidak dengan Jepang.

Jepang melaporkan lonjakan kematian COVID-19. Tak sedikit kelompok rentan di Negeri Sakura berisiko fatal akibat terpapar Omicron usai pemerintah sebelumnya menunda pemberian vaksinasi booster.

Apa penyebabnya?

"Penundaan pemerintah Jepang dalam melakukan vaksinasi booster COVID-19 yang membuat negara ini lebih rentan daripada negara kaya lainnya ketika varian Omicron belakangan memicu lonjakan kematian," kata para ahli, dikutip dari Reuters Rabu (16/2/2022).

Nyaris 30 persen populasi di Jepang berusia 65 tahun ke atas, merekalah yang berisiko tinggi meninggal akibat COVID-19. Terlebih tanpa perlindungan dari vaksinasi booster.

Per Selasa kemarin (15/2/2022), Jepang mencatat 236 kematian baru COVID-19, menjadi salah satu hari terburuk selama pandemi COVID-19 karena angka meninggal melambung tinggi.

Meskipun Jepang relatif lambat untuk melakukan kampanye vaksinasi di awal, negara ini langsung mempercepat proses vaksinasi dan pada bulan November memiliki tingkat vaksinasi tertinggi dibandingkan negara-negara kaya lain.

Namun, khusus program vaksinasi booster, pemerintah sengaja memberikan jeda lebih lama yakni delapan bulan setelah vaksinasi lengkap, saat banyak negara lain sudah memulai program tersebut dengan minimal menerima vaksinasi primer enam bulan sebelumnya.

Pada akhirnya, menyesuaikan situasi, Jepang mengikuti langkah negara lain untuk memberikan vaksinasi booster minimal enam bulan setelah menerima vaksinasi lengkap. Namun, hingga kini baru 10 persen dari populasi Jepang yang divaksinasi booster, jauh lebih rendah dibandingkan Korea Selatan dan Singapura yang berada di kisaran 50 persen.

"Jika mereka memberi tahu kami pada November, bahwa enam bulan (jeda vaksin booster dan primer) sudah cukup, maka di Soma kami bisa memulai vaksinasi booster sejak Desember, dan untuk itu saya merasa kesal," kata Hidekiyo Tachiya, walikota Soma di Jepang utara yang juga seorang dokter.

"Jika lebih cepat, tidak akan ada begitu banyak penderitaan dan begitu banyak orang tidak akan mati."

Pihak berwenang di Tokyo juga mendorong booster dilakukan lebih cepat tetapi tetap saja pemerintah tak langsung menyetujui permintaan tersebut.

"Kami meminta vaksin booster secepat mungkin, tetapi pemerintah tidak setuju," kata Gubernur Tokyo Yuriko Koike kepada wartawan baru-baru ini.

Seorang juru bicara kementerian kesehatan Jepang belakangan mengatakan jeda delapan bulan antara vaksinasi booster dan primer diputuskan oleh dewan ilmu kesehatan dan ketentuan itu dimodifikasi pada bulan Desember hingga Januari seiring munculnya ancaman Omicron.

Simak juga 'Pratama Arhan Resmi Gabung Klub Jepang Tokyo Verdy':

[Gambas:Video 20detik]



(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT