ADVERTISEMENT

Kamis, 17 Feb 2022 11:00 WIB

Saturasi Jack Lapian 53 Sebelum Meninggal Akibat COVID-19, Apa Artinya?

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Ketua Umum Banteng Network Jack Boyd Lapian melaporkan Fadli Zon ke Bareskrim Jack Lapian (Foto: Ketua Umum Banteng Network Jack Boyd Lapian melaporkan Fadli Zon ke Bareskrim. (Eva-detikcom))
Jakarta -

Jack Lapian atau nama lengkapnya Jack Boyd Lapian dikabarkan meninggal dunia di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, hari Rabu (16/2/2022) pukul 21.00 WIB. Hal ini pun dikabarkan langsung oleh putra sulung Jack, Jonathan Lapian.

"Telah berpulang ke rumah Bapa di Surga, Jack Boyd Lapian hari Rabu 16 Februari 2022 pukul 21.00," ujar Jonathan dalam pesan singkat.

"Terimakasih untuk dukungan dan doanya para rekan2 dan senior🙏," tambah Jonathan.

Diketahui, Jack Lapian meninggal di usia 45 tahun dan sempat mengalami kritis setelah terinfeksi COVID-19. Sekjen Cyber Indonesia itu juga dikabarkan memiliki penyakit komorbid liver (hati) dan jantung. Hal ini diketahui dari pernyataan kerabat Jack Lapian, Jeane Lasut.

Adapun gejala COVID-19 yang diidap Jack Lapian, yaitu demam dan sesak napas. Kondisinya pun semakin drop lantaran saturasinya mencapai angka 53 persen, hingga akhirnya dibawa ke salah satu rumah sakit.

"Gejalanya demam, meriang, awalnya biasa. Tapi dia enggak ngomong ke orang-orang kalau sesak. Makin lama makin drop," kata Jonathan.

Apa yang dimaksud saturasi 53 yang sempat dialami Jack Lapian?

Sebagaimana diketahui, salah satu hal yang perlu diperhatikan saat seseorang terinfeksi COVID-19 adalah tingkat saturasi oksigen. Untuk mengetahui normal atau tidaknya saturasi oksigen dalam darah biasanya menggunakan alat oximeter.

Adapun saturasi oksigen yang normal menggunakan oximeter, yaitu:

Saturasi oksigen di dalam darah normal: 95-100 persen
Saturasi oksigen di dalam darah rendah: kurang dari 90 persen

Oleh karena itu, arti saturasi 53 yang sempat dialami Jack Lapian adalah kadar oksigen di dalam darahnya tergolong sangat rendah.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), COVID-19 dapat menyebabkan penurunan tingkat saturasi oksigen secara tiba-tiba. Untuk itu, pasien yang menjalani isolasi mandiri, baik itu bergejala ringan atau tanpa gejala, dianjurkan memiliki oximeter untuk mengetahui tingkat saturasi oksigen.

"Hal lain dalam pedoman yang baru adalah bahwa pasien COVID-19 di rumah harus menggunakan oximeter nadi, yang mengukur kadar oksigen. Sehingga Anda dapat mengidentifikasi apakah di rumah kondisinya memburuk, atau akan lebih baik dirawat di rumah sakit," kata juru bicara WHO, Margaret Harris, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (17/2/2022).

Apa yang terjadi jika saturasi oksigen terlalu rendah seperti Jack Lapian?

Umumnya, saturasi oksigen terlalu rendah seperti Jack Lapian akan disertai sesak napas. Namun pada beberapa pasien COVID-19, sesak napas tidak muncul meski kadar oksigen dalam darah sudah sangat rendah. Kondisi ini dikenal sebagai happy hypoxia.

Kondisi tubuh kekurangan oksigen bisa berisiko fatal seperti kematian lantaran sel-sel tubuh membutuhkan oksigen untuk bisa berfungsi dengan baik. Kekurangan oksigen dalam jangka waktu lama juga menyebabkan kerusakan fungsi organ di dalam tubuh.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT