ADVERTISEMENT

Selasa, 22 Feb 2022 09:30 WIB

Pernah 'Berjaya' Sebelum Delta-Omicron, Apa Kabar Varian Alpha B117?

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
B.1.1.7, Mutation, Coronavirus, England, B117 Varian B117 pernah mendominasi lonjakan COVID-19 global (Foto: Getty Images/iStockphoto/Malik Evren)
Jakarta -

Varian Alpha B117 (tepatnya B.1.1.7) pernah mendominasi lonjakan COVID-19 global di akhir 2020 hingga 2021. Sempat pula mencuri perhatian saat dua kasus pertama ditemukan di Indonesia, Maret 2021 tepat 2 tahun setelah kasus pertama COVID-19 ditemukan di tanah air.

Seiring berjalannya waktu, dominasinya tergeser oleh berbagai varian baru dengan berbagai mutasi yang memberinya keunggulan untuk bertahan. Namanya bahkan nyaris tak terdengar lagi setelah kini ada varian Omicron atau B.1.1.529 yang dalam waktu singkat langsung mendunia.

Hingga saat ini, organisasi kesehatan dunia WHO masih memasukkan varian B117 ke dalam daftar Varian of Concern (VoC) bersama-sama dengan Delta dan Omicron. Bersama-sama dengan varian Beta B.1.351, varian Alpha menjadi penghuni pertama kategori ini sejak Desember 2020.

Namun tidak demikian di Eropa, tempat varian B117 pertama kali didokumentasikan. European Centre for Disease Prevention and Control (ECDC) baru-baru ini melakukan de-eskalasi terhadap varian B117, sehingga tidak lagi masuk VoC versi CDC Eropa.

Sebuah varian bisa mengalami de-eskalasi jika memenuhi salah satu kriteria:

  • Tidak lagi bersirkulasi
  • Sudah bersirkulasi dalam waktu lama tanpa ada dampak pada situasi epidemiologis secara keseluruhan
  • Bukti ilmiah menunjukkan bahwa varian tersebut tidak terkait dengan hal-hal yang mengkhawatirkan.

Varian B117 mengalami de-eskalasi di Eropa karena secara drastis mengalami penurunan sirkulasi di wilayah tersebut sejak kemunculan Varian Delta. Selain itu, bukti bahwa varian ini berdampak pada imunitas dari vaksinasi juga terbatas.

Pakar penyakit menular dari Universitas YARSI, Prof Tjandra Yoga Aditama, menjelaskan bahwa beberapa negara seperti Amerika Serikat dan Inggris, sebagaimana juga Uni Eropa, memang membuat sendiri daftar varian yang dianggap berbahaya. Daftar tersebut bisa berbeda dengan daftar yang dibuat WHO, sesuai perkembangan situasi di wilayah masing-masing.

"Mungkin akan baik juga kalau Indonesia melakukan hal yang sama, atau setidaknya Indonesia dapat memelopori untuk membahas dan menetapkan VOC, VOI dan VUM khusus untuk kawasan ASEAN, sehingga sesuai dengan masalah yang kita hadapi di tempat kita serta penangananya lebih terarah," saran Prof Tjandra dalam pesannya untuk wartawan, Selasa (22/2/2022).

Inisiatif tersebut, menurutnya juga bisa menunjukkan kepemimpinan dalam diplomasi kesehatan di kawasan regional atau bahkan internasional. Lebih luas lagi, ia menyarankan agar Indonesia mempelopori program bersama dan membuat laporan epidemiologis mingguan khusus ASEAN.



Simak Video "Studi AS Ungkap Covid-19 Memperparah Kerusakan Otak Jangka Panjang"
[Gambas:Video 20detik]
(up/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT