ADVERTISEMENT

Selasa, 22 Feb 2022 21:15 WIB

Gejala Anosmia Malah Jarang Ada di Omicron, Kok Bisa Beda? Ini Jawab Dokter

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Omicron Corona Virus Variant Anosmia gejala COVID-19 (Foto: Getty Images/iStockphoto/MCCAIG)
Jakarta -

Anosmia merupakan salah satu gejala yang dialami oleh pasien terkonfirmasi positif COVID-19. Kondisi ini biasanya dapat membuat pengidapnya kehilangan indra penciuman.

Sebagai informasi, anosmia dapat terjadi apabila virus COVID-19, termasuk Omicron melewati sawar darah otak atau penghalang antara pembuluh darah dan sistem saraf.

Virus yang melewati sawar darah otak tersebut kemudian mempengaruhi sistem dan jaringan saraf yang berfungsi untuk mendeteksi bau.

Sejumlah orang yang terinfeksi COVID-19, termasuk Omicron kemungkinan mengalami anosmia dan bisa sembuh dalam waktu beberapa hari atau minggu. Namun, ada juga pasien yang mengalami anosmia dalam jangka waktu yang lama.

Meskipun demikian, dokter spesialis paru mengungkap bahwa gejala anosmia jarang sekali dialami oleh pasien Omicron. Pasalnya, anosmia merupakan gejala khas dari COVID-19 varian Delta.

"Gejala sesak, anosmia, atau menurunnya indera membau dan mengecap. Itu yang nge khas pada delta dan ini jarang kita temukan pada pasien Omicron," dokter spesialis paru senior dari RS Persahabatan dan Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Erlina Burhan, SpP(K), dalam siaran langsung Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan, Selasa (22/2/2022).

"Omicron ini lebih banyak berkembang biak di saluran pernapasan atas, sedikit sekali dia berkembang biak di jaringan paru atau saluran pernapasan bawah. Itu mengapa pada kasus-kasus Omicron, jarang sekali kita temukan orang dengan sesak napas. Tapi bukan berarti tidak ada, tapi ada ya (jarang)," lanjutnya.



Simak Video "Pakar Sebut Pasien Omicron Jarang Anosmia dan Sesak Napas"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT