ADVERTISEMENT

Kamis, 10 Mar 2022 05:22 WIB

Pasien Penerima Cangkok Jantung Babi Pertama Meninggal Dunia

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jakarta -

Orang pertama yang menerima transplantasi jantung babi yang telah dimodifikasi secara genetik meninggal dunia. Pria asal Amerika Serikat (AS) ini bernama David Bennett dan berusia 57 tahun.

Dikutip dari France24, Sistem Medis Universitas Maryland mencatat Bennett telah menerima transplantasi jantung pada 7 Januari 2022. Ia meninggal dua bulan setelahnya, tepatnya pada 8 Maret 2022 lalu.

"Kondisinya mulai memburuk beberapa hari lalu. Setelah jelas dia tidak akan pulih, dia diberikan perawatan paliatif yang penuh kasih. Dia dapat berkomunikasi dengan keluarganya selama waktu-waktu terakhirnya," jelas University of Maryland Medical System (UUMS), lembaga yang menangani transplantasi tersebut, dalam sebuah pernyataan.

Pihak rumah sakit mengatakan jantung yang ditransplantasikan itu bisa bekerja dengan sangat baik selama beberapa minggu usai operasi. Selama itu tidak ada tanda-tanda penolakan.

Pasca operasi itu, Bennett sempat menghabiskan waktunya bersama keluarganya, melakukan terapi fisik, menonton 'Super Bowl', dan sering berbicara soal keinginannya untuk pulang ke rumah serta bertemu anjingnya, Lucky.

"Ia terbukti sebagai pasien pemberani dan mulia, yang terus berjuang sampai akhir. Kami menyampaikan belasungkawa yang tulus kepada keluarganya," jelas ahli bedah yang memimpin prosedur tersebut, Bartley Griffith.

Sebelumnya, Bennett masuk ke rumah sakit di negara bagian Maryland, AS, pada bulan Oktober 2021 lalu. Selama dirawat, ia hanya bisa berbaring dengan berbagai alat untuk membantunya agar bisa tetap hidup.

Namun, saat itu Bennett dianggap tidak memenuhi syarat untuk transplantasi manusia. Sampai akhirnya, transplantasi jantung babi ini dilakukan untuk mendukung kemajuan dalam donasi organ lintas spesies.

Jika berhasil, pencapaian medis ini bisa dijadikan jalan keluar untuk memecahkan masalah kurangnya organ manusia yang tersedia untuk disumbangkan.

"Kami memperoleh wawasan yang sangat berharga, belajar bahwa hati babi yang dimodifikasi secara genetik bisa berfungsi dengan baik dalam tubuh manusia sementara sistem kekebalan cukup ditekan," beber Direktur Program Xenotransplantasi Jantung Universitas Maryland, Muhammad Mohiuddin.

"Kami tetap optimis dan berencana melanjutkan pekerjaan kami dalam uji klinis di masa depan," pungkasnya.

(sao/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT