ADVERTISEMENT

Kamis, 10 Mar 2022 11:16 WIB

Kolom

Usap Isapan dengan Asupan

I Gusti Agung Oka Yadnya - detikHealth
Ilustrasi Gaya Hidup Sehat Foto: Shutterstock
Jakarta -

Tidak sedikit diantara kita telah terjebak dengan kebiasaan yang merugikan diri sendiri. Perilaku "konyol" terkadang disebut "keren" oleh penggemarnya tetapi sesungguhnya bertentangan dengan pola hidup sehat. Kebiasaan yang telah dilakoni bertahun-tahun memang tidak mudah untuk diubah, tetapi banyak orang berhasil berhenti merokok. Ini sangat bergantung pada komitmen yang bersangkutan untuk melakukan perubahan. Sayangnya, banyak perokok berat yang tidak berniat berhenti menjadi "ahli isap" dengan berbagai alasan yang tidak rasional.

Sebetulnya rokok, minuman keras (miras), dan NAPZA Narkotika, Alkohol, Psikotropika, dan Zat Adiktif lainnya) sangat berbahaya bagi kesehatan, tetapi belum semuanya secara tegas dilarang penggunaannya. Untuk miras dan NAPZA sudah ada larangan yang jelas, tetapi untuk merokok belum ada sanksi hukum yang seragam dan mengikat secara nasional. Aturannya masih parsial di beberapa daerah dan penerapan sanksinya juga cukup beragam, itupun khusus membatasi kegiatan merokok di tempat- tempat umum. Padahal penyakit yang ditimbulkan oleh nikotin yang dikandungnya cukup banyak, seperti: asma, infeksi paru-paru, kanker mulut, kanker tenggorokan, kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, dementia, disfungsi ereksi (impoten), dan sebagainya.

Hal yang lebih memprihatinkan, di beberapa tempat umum, kantor- kantor dan juga di dalam bus Antar Kota Antar Propinsi (AKAP) justru sengaja disediakan ruangan khusus untuk merokok. Kebijakan ini cukup rasional untuk menghindari orang merokok di tempat terbuka yang berpotensi membahayakan orang lain, tetapi disisi lain justru memfasilitasi orang untuk lebih intensif merokok. Selain itu, jenis rokok yang diproduksi semakin beragam dan belakangan ini ditambah munculnya jenis rokok elektronik. Kondisi ini praktis menambah semaraknya "dunia isap".

Ganti dengan Asupan

Berbagai kajian menunjukkan bahwa kegiatan merokok sangat berbahaya bagi kesehatan. Untuk memberi kesadaran tentang itu, pemerintah sesungguhnya telah mengambil beberapa terobosan, salah satunya mewajibkan perusahaan rokok untuk mencantumkan peringatan tentang bahaya pada setiap kemasan rokok. Cara ini sepertinya belum cukup efektif. Hal ini terbukti dari masih banyaknya anggota masyarakat yang doyan merokok.

Setiap tahun sekitar 225.700 orang di Indonesia meninggal akibat merokok atau penyakit yang berkaitan dengan tembakau. Sementara Data Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tahun 2020 secara nasional jumlah perokok di atas usia 15 tahun sebesar 28,7 persen. Walaupun ada tren penurunan dibandingkan tahun sebelumnya, namun angka ni tergolong masih cukup besar dan mengkhawatirkan. Apalagi pada masa pandemik COVID-19 dengan berbagai variannya yang sedang melonjak saat ini, perokok sebagai salah satu kelompok masyarakat yang berisiko tinggi untuk terinfeksi.

Kebiasaan merokok seseorang secara langsung berpengaruh pula pada pola hidupnya sehari-hari. Dengan aktivitas merokok dalam sehari dapat saja dilakukan lebih dari tiga kali tentu saja akan mengurangi kesempatannya untuk melakukan pekerjaan lain yang bermanfaat. Ini berarti aktivitas merokoknya telah mengurangi produktivitasnya. Selain itu, pada beberapa kasus ditemukan bahwa perokok berat memiliki selera makan yang rendah. Selain porsi makannya menurun, jika harus memilih salah satu, orang bersangkutan lebih memilih merokok dibandingkan makan nasi. Dalam waktu lama, muncullah kasus-kasus kekurangan gizi. Fenomena ini tentu saja bertentangan dengan pola hidup sehat.

Salah satu bentuk pola hidup sehat adalah mengurangi kegiatan yang mengundang risiko penyakit dan menggantikan dengan aktivitas yang bermanfaat dan menyegarkan tubuh. Dalam konteks ini masyarakat perlu didorong untuk menghentikan kebiasaan merokok dan mengalihkan uangnya untuk membeli makanan yang sehat. Viralkan motto "Jangan 'bakar' uangmu untuk menimbun penyakit di tubuhmu". Dengan kata lain, kalau tidak bisa berhenti seketika, setidaknya kurangi mengisap rokok dan ganti dengan asupan bergizi. Jika karena kesibukan atau tidak memiliki waktu membuat makanan di rumah, saat ini produk makanan dan minuman sehat dan bergizi banyak dijual di lingkungan masyarakat. Makanan sehat mudah ditemukan baik di perkotaan maupun di pedesaan. Yang terpenting pastikan si perokok dapat mengalihkan anggaran untuk membeli "benda isap" yang membahayakan menjadi asupan yang sehat dan bergizi.

Langkah Nyata

Untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi kebiasaan merokok di kalangan masyarakat, perlu ada upaya yang lebih menukik dan masif, baik dilakukan oleh pemerintah, kelompok-kelompok masyarakat, maupun oleh pribadi masing-masing. Dalam hal ini perlu dibuat program berkesinambungan untuk memberi pengetahuan dan kesadaran bagi masyarakat tentang bahaya rokok. Berbarengan dengan itu, praktikkan pembiasaan "tangan bebas rokok".

Tindakan nyata untuk melengkapi program tersebut dapat dilakukan oleh pemerintah misalnya mengubah jenis bantuan kepada masyarakat miskin. Kalau sebelumnya ada Bantuan Langsung Tunai (BLT) diubah menjadi Bantuan Langsung Sembako (BLS). Dalam hal ini bantuan yang digelontorkan dalam bentuk paket-paket makanan yang bergizi. Mengapa perubahan jenis bantuan ini penting dilakukan? Sejumlah kasus diberitakan, bantuan berupa uang terkadang tidak utuh dibawa pulang karena sebagian dibelikan rokok, minuman keras, atau kebutuhan pribadi lainnya. Bahkan disinyalir ada bantuan tunai digunakan untuk judi. Ini semestinya tidak boleh terjadi. Kalau isu ini memang benar sebagai data faktual, maka dapat dikatakan bahwa bantuan tersebut tidak semuanya tepat sasaran.

Jangan heran kalau fenomena kekurangan gizi (stunting) sulit dituntaskan walaupun bantuan terus digulirkan oleh pemerintah. Untuk menghindari kejadian pilu tersebut berulang di masyarakat, kelompok-kelompok masyarakat terkait dapat juga ambil bagian sebagai pengawas dalam menyukseskan program pemerintah ini. Selain pemerintah dan kelompok-kelompok masyarakat, masing-masing pribadi juga harus berpartisipasi. Terobosan penting yang dapat dilakukan oleh masing-masing pribadi adalah menguatkan komitmen untuk menjadikan masa depan lebih baik. Sebagai orang dewasa sudah seyogyanya memberi keteladanan kepada anak cucu agar menghindari kebiasaan mengisap (mengonsumsi) barang-barang yang rawan menimbulkan penyakit dan diganti dengan makanan yang bergizi. Secara ekonomis, uang untuk membeli rokok dapat dialihkan untuk membeli makanan yang sehat.

Langkah ini penting dilakukan agar kedepan jumlah perokok semakin berkurang dan semakin menonjol munculnya generasi sehat. Ini juga berkaitan dengan upaya menciptakan generasi penerus yang kuat, sehat, dan cerdas. Upaya ini sebagai langkah penting menjadikan Indonesia bangkit, mampu membangun dalam berbagai sektor kehidupan, serta dapat bersanding dan bersaing dengan negara-negara maju lainnya. Ayo, jadikan program "mengusap isapan dengan asupan" sebagai wujud nyata menuju Indonesia Emas Tahun 2045.

I Gusti Agung Oka Yadnya, Pemenang Favorit Lomba Karya Tulis Ultra Milk



Simak Video "AS Terbitkan Izin Penggunaan Darurat Vaksin JYNNEOS untuk Monkeypox"
[Gambas:Video 20detik]
(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT