Selasa, 15 Mar 2022 12:35 WIB

Hati-hati! QLC Bisa Memicu Upaya Bunuh Diri Pada Wanita

20detik - detikHealth
Jakarta -

Saat mengalami quarter-life crisis, seseorang bisa merasa kehilangan arah dan cemas berlebih. Jika hal-hal ini tidak tertangani, maka bisa mengarah pada kondisi-kondisi yang mengkhawatirkan seperti depresi dan keinginan menyakiti diri sendiri.

Psikolog Klinis dan Dosen Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta, Cania Mutia, M.Psi., Psikolog, turut menanggapi hal ini. Menurutnya, quarter-life crisis mula-mula menyebabkan stres. Hal ini terjadi karena diri sedang merasa terancam dan seakan dipaksa untuk keluar dari zona nyaman.

Saat stres gagal dikenali dan ditangani, muncul kecemasan yang bisa berkembang menjadi serangan panik. Serangan panik kemudian bisa menyebar ke gangguan-gangguan mental lainnya, misalnya depresi.

"Ada perilaku menyakiti diri, bahkan ada upaya untuk bunuh diri atau mengakhiri hidup. Itu juga bisa sekali menjadi salah satu faktor risiko ketika kita mengalami QLC dan tidak kita coba kontrol dulu, seperti itu," terang Cania di program e-Life detikcom.

Perempuan tak luput dari permasalahan quarter-life crisis. Konstruksi sosial seringkali memberi porsi lebih sedikit pada perempuan untuk maju. Selain itu, perempuan di usia kuartal juga mulai ditekan dengan ekspektasi-ekspektasi tertentu yang turut memperparah krisis ini.

Terbiasa dengan konstruksi yang demikian, perempuan bisa saja menyepelekan quarter-life crisis yang menimpanya. Padahal, alangkah baiknya jika quarter-life crisis bisa dikenali dan ditangani dengan baik agar tak mengganggu keberlangsungan hidup sehari-hari.

Cania menyarankan kepada perempuan yang sedang mengalami quarter-life crisis untuk berhenti sejenak dan 'berkenalan kembali' dengan diri. Hal ini penting untuk kemudian bisa mengidentifikasi gangguan yang dirasakan, serta mencari jalan keluarnya.

"Untuk seluruh detikers, perempuan-perempuan kuat di luar sana, mengakui bahwa kita tidak baik-baik aja nggak papa banget. It's okay to be not okay. Ketika kita merasa sedang tidak baik-baik aja, hal yang harus dilakukan adalah stop dulu, kita berhenti. Kita kenali diri kita," kata Cania.

"Jadi kenali dulu, oh saya tuh sedang nggak baik-baik saja ya. Oh saya tuh sekarang lagi cemas ya. Oh saya tuh lagi iri nih, ngelihat kok teman-teman di Instagram keren banget. Kenali dulu. Setelah kita kenalan sama dia, perlahan-lahan kita coba untuk terima dia," lanjut Cania.

Melalui proses tersebut, biasanya emosi akan terasa lebih stabil. Kemudian, saatnya logika ikut serta dalam menentukan jalan keluar dari permasalahan yang dialami.

Cania juga menggarisbawahi bahwa dalam proses ini, alangkah baiknya jika tidak banyak membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Hal terpenting adalah berproses sesuai dengan level diri sendiri.

"Jadi, yang kita lakukan bukan untuk melawan perempuan-perempuan lain yang lebih keren dari kita, tapi yang kita lakukan adalah untuk melawan diri kita yang kemarin," tutur Cania.

Bagaimanapun juga, proses pemulihan dalam quarter-life crisis seringkali tidak mudah dilakukan sendiri. Jika semakin memburuk dan bahkan sudah mulai muncul perilaku yang menyabotase diri sendiri, jangan ragu untuk meminta bantuan kepada tenaga profesional seperti psikolog atau psikiater.

"It's okay to be not okay. Itu nggak papa. Tapi, for awhile. Jadi, cuma untuk sementara waktu. Karena apa? Karena kita adalah penerus generasi bangsa. Kita tuh masih dibutuhkan di dunia ini untuk melakukan banyak hal. Kita masih butuh untuk empowering perempuan-perempuan lain di luar sana," pungkas Cania.

(fuf/fuf)