Kamis, 17 Mar 2022 07:45 WIB

Yakin Omicron Sudah Mereda, Giliran Jepang Siap-siap Cabut Pembatasan

Vidya Pinandhita - detikHealth
Sejumlah relawan beristirahat sambil memberikan dukungan saat pertandingan panahan Olimpiade Tokyo 2020 di Yumenoshima Park Archery Field, Tokyo, Jepang, Senin (26/7/2021). Penyelenggaraan Olimpiade yang diselenggarakan tanpa penonton dari kalangan umum tersebut merupakan keputusan di tengah kondisi darurat COVID-19 yang sedang diberlakukan di Ibu Kota Jepang. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/wsj. Foto: ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
Jakarta -

Lantaran yakin gelombang Omicron sudah surut, Jepang bakal mencabut pembatasan COVID-19 yang diberlakukan di Tokyo dan prefektur lainnya.

Hal itu disampaikan oleh Perdana Menteri Fumio Kishida pada Rabu (16/3/2022). Ia menyebut, pencabutan pembatasan tersebut bakal diumumkan pada 21 Maret mendatang, dibarengi pelonggaran lebih lanjut dari tindakan perbatasan.

Data terakhir pada Selasa (15/3), Tokyo mencatat 7.836 kasus COVID-19, menurun 12 persen dari pekan sebelumnya. Gelombang Omicron sempat memicu rekor jumlah kasus COVID-19 di ibu kota dan seluruh wilayah Jepang pada bulan Februari. Diketahui, Omicron memicu gelombang COVID-19 paling mematikan di negara tersebut sejauh ini.

Meski sempat lambat di awal berlangsungnya program vaksinasi, kini pemerintah Jepang telah mempercepat pemberian vaksin COVID-19 booster. Kini, cakupan vaksinasi COVID-19 booster telah mencapai sekitar 71 persen populasi lansia di Jepang.

Dalam pembatasan darurat semu yang kini diterapkan di 18 dari 47 prefektur di Jepang, waktu operasional restoran dan bisnis lainnya dibatasi. Namun, para pejabat masih memperdebatkan apakah pembatasan tersebut dapat dicabut di prefektur barat Osaka, sebab jumlah kasus rawat inap pasien COVID-19 masih tinggi.

Pakar masih waswas varian baru susul Omicron

Menurut pakar kesehatan Profesor Universitas Tohoku, Hitoshi Oshitani, gelombang Omicron saat ini belum berakhir dan varian Corona baru bisa muncul kapan saja. Namun memang, pembatasan yang sudah diterapkan selama dua tahun pandemi COVID-19 mulai mengalami penurunan efektivitas.

"Kita perlu memiliki strategi berbeda untuk menekan penularan pada tahap ini," kata Oshitani selaku penasihat utama respons pandemi pemerintah, dikutip dari Reuters, Rabu (16/3).

"Masih terlalu dini untuk membahas semacam strategi keluar dari virus ini," imbuhnya.



Simak Video "Warga Tokyo Sambut Baik Dicabutnya Aturan Pembatasan Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)