Rabu, 23 Mar 2022 07:30 WIB

Hari Tuberkulosis Sedunia

Sama-sama Serang Pernapasan, Kenali Bedanya TBC dan COVID-19

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
Weekly pill box. Bagi yang pernah kena tuberkulosis, kotak obat seperti ini tentu sudah tidak asing (Foto: Getty Images/iStockphoto/kemalbas)
Jakarta -

Penyakit tuberkulosis (TBC) merupakan masalah kesehatan yang menjadi perhatian seluruh dunia, termasuk Indonesia. Berdasarkan laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2021, terdapat 9,9 juta kasus TBC di dunia.

Hari tuberkulosis sedunia 2022 diperingati tanggal 24 Maret.

Indonesia menempati peringkat ke-3 setelah India dan China, dengan jumlah kasus sebanyak 824.000 serta kematian sebanyak 93.000 per tahun.

Sayangnya, penemuan kasus penyakit yang mematikan ini terhambat lantaran sejumlah fasilitas kesehatan dan penanggulangan lebih difokuskan pada pandemi COVID-19.

"Namun, situasi pandemi COVID-19 ini cukup berdampak pada semua sektor, salah satunya adalah tidak menutup kemungkinan pada upaya penanggulangan TBC, khususnya pencapaian penemuan kasus," tutur Dr drh Didik Budijanto, Kementerian Kesehatan RI, dalam konferensi virtual, Selasa (22/3/2022).

Seperti diketahui, COVID-19 dan TBC memiliki gejala yang mirip, seperti batuk hingga sesak napas. Bagaimana membedakan keduanya?

"Sama-sama (menyerang) di saluran dan organ pernapasan," tutur drh Didik.

Menurut dr Tiffany Tiara Pakasi, Dit Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) TBC dan ISPA, perbedaan COVID-19 dan TBC adalah dari patogennya. TBC disebabkan oleh bakteri mycobacterium tuberculosis, sedangkan COVID-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2.

Selain itu, perbedaannya juga terlihat dari konsep atau waktu timbul gejala. Menurut dr Tiara, COVID-19 lebih cepat timbul gejala dan penyembuhannya, sedangkan TBC membutuhkan waktu yang lebih lama.

"TBC itu oleh bakteri tuberkulosis, kalau COVID-19 itu oleh virus. Sehingga memang mungkin perbedaannya di konsep atau waktu timbulnya gejala. Kalau COVID-19 lebih cepat, kalau TBC itu lebih lama. Pengobatannya juga sama, COVID-19 cepat selesai jika memang survive, kalau TBC butuh kesabaran karena minum obatnya berbulan-bulan," tutur dr Tiara.

dr Nurul HW Luntungan, MPH, Ketua Yayasan Stop TB Partnership, juga mengungkapkan bahwa bakteri TBC sangat berbeda dengan bakteri biasa yang menyebabkan sakit flu atau batuk.

Pasalnya, bakteri TBC bisa bersembunyi di dalam tubuh, sehingga sulit untuk dideteksi.

"Bakteri TBC ini berbeda dengan bakteri yang menyebabkan sakit flu atau batuk. Karena bakterinya itu bisa sembunyi di dalam tubuh dan orang yang terkena bakterinya belum tentu terkena TBC," lanjutnya.



Simak Video "Kepala BKKBN Sebut Tuberkulosis Lebih Mematikan Dibanding Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/up)