Rabu, 23 Mar 2022 21:13 WIB

Terkuak, Menkes Beberkan Alasan Serangan Omicron RI Tak Sedahsyat Negara Lain

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Ilustrasi Omicron Foto: Shutterstock
Jakarta -

Bukan tanpa alasan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkap kemungkinan tren kasus COVID-19 Indonesia relatif lebih rendah saat 'diamuk' Omicron ketimbang negara lain. Menurutnya, mayoritas warga Indonesia sudah mendapat dobel imunitas atau super immunity.

Hal itu juga terjadi pada India, yang tidak melaporkan lonjakan kasus COVID-19 sedahsyat Korea Selatan hingga melampaui 600 ribu per hari. Super immunity menurut Menkes didapat dari imunitas vaksinasi dan infeksi.

"Dugaan awal kita kan vaksinasinya agak lambat, jadi antibodi masyarakat masih tinggi dan gelombang Delta yang kita alami cukup besar," terang dia dalam konferensi pers Rabu (23/2/2022).

"Sehingga masyarakat sudah memiliki double immunity, membuat super immunity, imunitasnya super kuat dan bertahan lebih lama," gambaran Menkes Budi.

Menkes Budi kemudian menyoroti lonjakan kasus COVID-19 yang baru-baru ini kembali terjadi di Inggris, Jerman dan Prancis. Peningkatan kasus di tiga negara tersebut terjadi usai subvarian Omicron BA.2 mulai dominan.

Sementara, meskipun BA.2 sudah meningkat di Indonesia, tidak ada pola penularan yang meningkat signifikan serupa dengan sejumlah negara Eropa tersebut. Lonjakan akibat subvarian Omicron BA.2 juga dilaporkan di beberapa negara Asia seperti Korea Selatan hingga Hong Kong.

Belakangan terungkap, vaksinasi COVID-19 di Hong Kong masih jauh lebih rendah dibandingkan usia produktif, sehingga banyak kelompok rentan yang tak tertolong di gelombang Omicron. Menkes kembali menduga, subvarian Omicron BA.2 tak menjadi ancaman Indonesia lantaran super immunity yang sudah tercipta di banyak masyarakat.



Simak Video "Meski Naik, Kasus Harian Covid-19 RI Belum Setinggi Negara-Negara Tetangga"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)