Kamis, 24 Mar 2022 14:30 WIB

Syarat Mudik Wajib Booster, Nonton MotoGP Mandalika Kok Nggak?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Seorang penonton berhasil menangkap helm yang dilemparkan pembalap Aprilia Racing Aleix Espargaro seusai balapan MotoGP seri Pertamina Grand Prix of Indonesia di Pertamina Mandalika International Street Circuit, Lombok Tengah, NTB, Minggu (20/3/2022). Aleix Espargaro memenuhi janjinya untuk melemparkan helm kepada penonton usai berhasil meraih jumlah pengikut di Instagramnya sebanyak satu juta orang sebelum balapan MotoGP pada hari Minggu (23/3). ANTARA FOTO/Andika Wahyu/foc. Penonton MotoGP Mandalika. (Foto: ANTARA FOTO/Andika Wahyu)
Jakarta -

Kewajiban booster sebagai syarat mudik belakangan menuai pro kontra di masyarakat. Tidak sedikit yang beranggapan kebijakan pemerintah terkesan 'tebang-pilih' lantaran acara MotoGP Mandalika tak menetapkan kebijakan serupa yakni wajib vaksin booster COVID-19.

Menurut ahli epidemiologi Pandu Riono, ada perbedaan jumlah pergerakan mudik dengan MotoGP Mandalika. Jumlah warga mudik diyakini Pandu bakal berkali-kali lipat lebih banyak ketimbang penonton MotoGP Mandalika yang tak sampai ratusan ribu.

"Iya waktunya beda, risikonya lebih sedikit, yang ke Mandalika berapa sih paling cuma 100 ribu nggak ada jutaan, kalau mudik kan jutaan masyarakat bergerak," terang Pandu saat dihubungi detikcom Kamis (24/3/2022).

Jumlah penonton MotoGP Mandalika disebut Pandu tak berarti apa-apa jika dibandingkan dengan pergerakan masif saat mudik. Karenanya syarat wajib booster menjadi penting untuk pemudik.

Alasan lainnya yakni pemudik meliputi semua usia, dari muda hingga lansia. Apalagi, budaya mudik umumnya mendatangi kelompok rentan yakni orangtua dengan usia lanjut yang berisiko tinggi saat terpapar COVID-19 hingga kemungkinan fatal.

"Gini, Mandalika tuh nggak ada artinya apa-apa, berapa orang sih ke sana? Kan sedikit banget, kalau orang mudik itu kan masif, se-Indonesia, yang ke Mandalika kan cuma orang kaya saja semua ke sana dan sudah divaksinasi lengkap," terang dia.

"Kedua, yang mudik tuh semua usia, ketiga dia bersilaturahmi sama orang-orang tua. Risikonya lebih besar karena termasuk kelompok rentan," pungkas Pandu.

Selanjutnya
Halaman
1 2