Selasa, 29 Mar 2022 17:00 WIB

Shanghai Lockdown Ketat COVID-19, Memang Separah Apa?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Police officers in protective suits keep watch at an entrance to a tunnel leading to the Pudong area across the Huangpu river, after traffic restrictions amid the lockdown to contain the spread of the coronavirus disease (COVID-19) in Shanghai, China March 28, 2022. REUTERS/Aly Song Shanghai lockdown ketat. (Foto: REUTERS/Aly Song)
Jakarta -

Shanghai, kota terpadat di China kembali memperketat lockdown terkait COVID-19. Sejumlah penduduk diminta tak meninggalkan rumah kecuali ada kebutuhan mendesak dan sudah melakukan tes COVID-19.

Lockdown ketat dilakukan usai jumlah kasus harian Corona di sana kembali meningkat melampaui 4.400 kasus. Sebenarnya, kasus COVID-19 Shanghai relatif tetap rendah meskipun kembali meningkat, yakni 4.381 kasus tanpa gejala dan 96 kasus COVID-19 bergejala berdasarkan laporan 28 Maret.

Kota berpenduduk 26 juta orang tersebut menjadi tempat pengujian untuk strategi nol kasus COVID-19, ketika baru-baru ini dihadang varian Omicron yang sangat menular. Beberapa pakar menyayangkan strategi China dinilai tak lagi relevan menghadapi wabah yang sulit langsung dihilangkan.

Sementara sejumlah penduduk di sebelah timur Huangpu, Shanghai, pada awalnya dikurung di kompleks perumahan per Senin, tetapi sebagian besar diizinkan berkeliaran di lingkup tersebut.

Namun, pada hari Selasa, dua warga mengatakan kepada Reuters bahwa mereka diberitahu oleh komite lingkungan mereka, jika hal tersebut tidak lagi diizinkan.

"Anak-anak masih piknik kemarin dan bersenang-senang," kata salah satu dari mereka, yang menolak disebutkan namanya dengan alasan masalah privasi.

Simak video 'China yang Sibuk Lockdown Kala Negara Lain Siap-siap Endemi':

[Gambas:Video 20detik]



(naf/up)