Sabtu, 02 Apr 2022 19:02 WIB

Wajar Nggak Sih Baper saat Bercanda? Begini Batasannya Menurut Psikolog

Rosiana Muliandari - detikHealth
wanita ngambek karena problem asmara Kata psikolog soal orang yang baper saat bercanda. (Foto ilustrasi: Thinkstock)
Jakarta -

Melontarkan candaan atau lelucon satu sama lain merupakan sebuah hal yang sangat wajar dan sering dilakukan. Namun, caandaan tersebut seharusnya tidak membuat seseorang tersinggung.

Ada beberapa indikator yang dapat membuat sebuah lelucon masuk ke kategori 'berlebihan'. Apa sajakah indikator tersebut?

Psikolog klinis Joice Manurung berpendapat, secara umum tidak ada kategori khusus yang menentukan candaan benar dan salah. Hal ini dikarenakan setiap orang, baik yang memberikan maupun menerima candaan, datang dari latar belakang yang berbeda-beda.

Termasuk latar belakang pendidikan, budaya, hingga kemampuan berkomunikasi seseorang. Selain latar belakang, sejak kecil, orang-orang telah 'dibentuk' sedemikian rupa oleh narasi dari lingkungan sekelilingnya, baik keluarga atau kondisi sosial.

"Jadi kalau kita lihat nih seseorang lagi bercanda, itu pasti dilatarbelakangi oleh apa yang pernah dia dapet, apa yang pernah dia lihat. Belum tentu hal tersebut bisa diterima dengan terbuka dan positif oleh orang-orang yang lahir, tumbuh berkembang, di tempat, budaya, pendidikan yang berbeda," jelas Joice pada e-Life: Kok Baper Sih? Kan Bercanda!, Jumat (1/4/2022).

Dengan adanya perbedaan latar belakang yang dapat memicu perbedaan arti dalam sebuah lelucon, Joice menilai lelucon itu sebenarnya subjektif. Namun, ia kerap menegaskan bahwa ada beberapa indikator yang dapat membuat sebuah lelucon menjadi berlebihan.

Indikator yang pertama adalah bahwa sebuah lelucon sebaiknya tidak membawa unsur fisik karena ini sudah dapat dikategorikan sebagai bullying. Kemudian, sebuah lelucon juga jangan sampai memunculkan baik kekerasan verbal, fisik, emosional.

Ketiga, sebuah lelucon juga tidak boleh melanggar hati nurani. Selanjutnya, Joice menekankan bahwa lelucon tidak boleh melanggar Hak Asasi Manusia dan juga tidak menentang kesusilaan, seperti lelucon yang mengandung rasisme.

"Itulah mengapa sebelum kita bercanda, kita perlu mikirin yang mau dicandain itu apa, yang mau diomongin itu apa. Lalu, siapa yang akan kita bercandain, orangnya siapa, kelompoknya siapa, masuk nggak dengan candaan kita?" tekannya.

"Bercanda itu perlu matang, sekalipun sama teman dekatnya karena teman dekat pun berbeda latar belakangnya dengan kita," lanjutnya.



Simak Video "Kenapa Kita Jadi Netizen yang Gampang Baper?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)