ADVERTISEMENT

Rabu, 06 Apr 2022 12:32 WIB

Praktik Terawan Tak Lewati Uji Klinis, Pakar: 'Testimony Based Medicine'

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menkes Terawan Agus Putranto Terawan Agus Putranto. (Foto: Andhika Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Praktik kedokteran lazimnya mengedepankan 'evidence based medicine' (EBM), dalam arti semua tindakan harus selalu berbasis bukti ilmiah. Tidak adanya uji klinis dalam praktik kontroversial Terawan Agus Putranto membuat pakar melabelinya sebagai 'testimony based medicine'.

Ketua Asosiasi Dosen Hukum Kesehatan Indonesia, Dr dr M Nasser, SpKK, DLaw, secara khusus menyoroti testimoni sederet pejabat dan anggota DPR terkait efektivitas 'cuci otak' atau digital substraction angiography (DSA) yang dipraktikkan dr Terawan. Tanpa uji klinis yang memenuhi standar, terapi ini dinilainya belum memenuhi 'evidence based'.

Dalam ranah kedokteran, testimoni tidak menggantikan bukti ilmiah yang didapat dari uji klinis. Pasalnya, testimoni setiap orang bisa sangat subjektif dalam praktik yang dilakukan dokter. Ia menegaskan hal semacam ini keliru dan tak masuk ranah penelitian kesehatan atau kedokteran.

"Kita sekarang tidak mengandalkan evidence based, tapi yang kita andalkan adalah testimony based medicine (TBM), orang bertestimoni saya enak, saya senang, saya gembira setelah di-DSA atau saya tidak sakit," jelas dr Nasser dalam diskusi virtual, Selasa (5/4/2022).

Ia menganalogikan dengan kasus pasien yang hanya disuntikkan air, bisa saja yang bersangkutan merasa langsung lebih baik lantaran ada semacam dorongan emosi.

"Kita ini bayak sekali TBM, TBM tidak masuk dalam ruang lingkup penelitian kesehatan kedokteran. TBM itu untuk kuliner, oh rasanya enak, bukan untuk obat," tegas dia.

dr Nasser menyayangkan banyak pihak yang membela Terawan dengan 'membabi buta', hanya berdasarkan suka dan tidak suka. Sama sekali disebutnya tak masuk dalam unsur akademik.

"Pembelaan tidak akademik, dan hanya berbasis like and dislike," pungkas dia.

Ia kemudian mengingatkan praktik berdasarkan TBM tentu bisa membahayakan masyarakat, hal ini merupakan pelanggaran etik praktik dan harus diproses MKEK IDI.

Terkait disertasi S3 Terawan yang juga membahas terapi tersebut, pakar farmakologi klinis Prof Rianto Setiabudi menyebut ada sejumlah kelemahan desain yang dinilainya sebagai 'cacat besar'. Termasuk, soal penggunaan heparin yang tidak sesuai peruntukannya dan tidak adanya kelompok pembanding sebagai kontrol.

"Jadi ada bagian-bagian tertentu dalam disertai itu yang mengandung kelemahan-kelemahan substansial," tegas Prof Rianto dalam rapat bersama DPR, Senin (4/3/2022).



Simak Video "Butet Kartaredjasa: Saya Pokoknya Percaya sama Terawan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT