Unhas Buka Suara Usai Tudingan Ditekan Luluskan Disertasi 'Cuci Otak' Terawan

ADVERTISEMENT

Unhas Buka Suara Usai Tudingan Ditekan Luluskan Disertasi 'Cuci Otak' Terawan

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Rabu, 06 Apr 2022 05:47 WIB
Menkes Terawan Agus Putranto
Eks Menkes Terawan Agus Putranto. (Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)
Jakarta -

Universitas Hasanuddin buka suara usai tudingan mendapatkan tekanan sehingga meluluskan disertasi metode cuci otak mantan Menteri Kesehatan RI Terawan Agus Putranto pada 2016 silam.

Praktik 'cuci otak' atau digital substraction angiography (DSA) menjadi salah satu hal yang melatarbelakangi pemecatan Terawan dari keanggotaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI).

"Terkait hal ini, kita justru mengharapkan penjelasan dari MKEK IDI," kata Humas Unhas Ishak Rahman, dikutip dari CNNIndonesia, Rabu (6/4/2022).

Ishak tidak merinci lebih lanjut terkait disertasi metode cuci otak tersebut. Ia hanya meminta MKEK IDI menjelaskan secara utuh terkait pihak yang menekan para pembimbing disertasi Terawan.

Sementara itu promotor Dr dr Terawan Agus Putranto SpRad, Prof Irawan Yusuf dari Universitas Hasanuddin (Unhas) juga mempertanyakan terkait tudingan Unhas mendapat tekanan sehingga meloloskan disertasi metode cuci otak.

Prof Irawan juga sebelumnya mengaku sudah memberikan penjelasan ke MKEK IDI terkait metode cuci otak dr Terawan. Prof Irawan Yusuf PhD menjadi saksi ahli.

"Saya kira tidak ada yang berubah. Lagipula saat ini, saya sedang meminta penjelasan Prof Rianto Setiabudi dari MKEK IDI dari mana informasinya bahwa Unhas ditekan," jelasnya.

Dalam dokumen yang diterima detikSulsel, ada empat poin penjelasan yang dia berikan. Salah satunya menyebut dr TAP pada awalnya mengambil S3 di Universitas Gadjah Mada, namun tidak ada dosen yang mau membimbing.

Selengkapnya soal poin tersebut, bisa disimak DI SINI.

Sebelumnya, Prof Rianto Setiabudi dari MKEK dalam rapat dengan Komisi IX DPR RI menyiratkan, disertasi Terawan tentang 'cuci otak' menyalahi etika kedokteran. Sebab, untuk bisa diterapkan secara luas, sebuah terapi hendaknya sudah lulus uji klinis.

Disertasi Terawan oleh Prof Rianto disebut tidak menggunakan kelompok kontrol atau pembanding. Dalam uji klinis, kesimpulan tidak bisa ditarik jika tidak ada kelompok pembanding tersebut.

"Ini adalah sebuah penelitian yang cacat besar sebetulnya," sebut Prof Rianto.

Simak Video: Prof Irawan Bantah Tudingan MKEK IDI: Saya Tak Akan Pernah Bisa Ditekan!

[Gambas:Video 20detik]



(kna/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT