Kamis, 07 Apr 2022 21:00 WIB

Horor! Jenazah COVID-19 Menumpuk, Layanan Pemakaman Hong Kong Kewalahan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
A worker moves a paper coffin at the factory of LifeArt in Hong Kong, Friday, March 18, 2022. Hong Kong is running short of coffins during its deadliest outbreak of the coronavirus pandemic. LifeArt, a company in Hong Kong is trying to make an alternative, cardboard coffin, which it says is environmentally-friendly. (AP Photo/Kin Cheung) Foto: AP/Kin Cheung
Jakarta -

Peti mati kayu tradisional nyaris habis di Hong Kong imbas ledakan kasus COVID-19. Pihak berwenang kini tengah berupaya menambah ruang kamar jenazah yang membanjiri rumah duka.

"Saya belum pernah melihat begitu banyak mayat ditumpuk bersama-sama," kata direktur pemakaman setempat Lok Chung, 37, yang telah bekerja sepanjang waktu, dengan sekitar 40 pemakaman diselenggarakan pada bulan Maret, naik dari sekitar 15 pemakaman dalam satu bulan.

"Saya belum pernah melihat anggota keluarga begitu sedih, sangat kecewa, sangat tidak berdaya," kata Chung, yang mengenakan setelan abu-abu dengan kaus polo hitam, kepada Reuters.

Sejak Hong Kong diterpa gelombang kelima COVID-19, ada lebih dari satu juta infeksi Corona dan 8 ribu kematian. Potret jenazah yang menumpuk di ruang gawat darurat sebelah pasien baru-baru ini juga menjadi sorotan banyak orang.

Hal itu terpaksa terjadi lantaran seluruh kamar mayat telah penuh terisi.

"Penantian yang lama untuk memproses dokumen kematian telah menghambat pekerjaan," tambah Chung, yang bergegas dari kamar mayat minggu lalu untuk membuat pengaturan akhir untuk pasien COVID-19 terbarunya.

"Dan keluarga seorang wanita yang meninggal pada 1 Maret masih menunggu surat-surat untuk memungkinkan mereka mengklaim tubuhnya," tambahnya.

Sebagian besar keterlambatan pemakaman jenazah COVID-19 disebabkan oleh kemacetan transportasi dari kota tetangga di Cina selatan, Shenzhen, yang memasok banyak barang, tetapi sekarang memerangi wabah COVID-19-nya sendiri.

Perbatasan dengan Hong Kong sebagian besar juga ditutup karena COVID-19.

Ibu rumah tangga Kate berusia 36 tahun mengatakan kematian ayah mertuanya pada bulan Maret akibat COVID-19 membawa dampak emosional yang besar pada keluarga, ia juga kerap disertai penyesalan terbesar adalah tidak dapat mengunjunginya di rumah sakit.

"Ketika mereka mengira dia tidak akan berhasil, kami bergegas ke sana, tetapi sudah terlambat," katanya.

"Baru sekarang kita bisa melihatnya untuk terakhir kalinya," lanjut dia.

Krematorium beroperasi sepanjang waktu

Enam krematorium saat ini dijalankan hampir sepanjang waktu oleh departemen Young. Melakukan hampir 300 kremasi sehari atau dua kali lipat dari biasanya.

"Dan kamar mayat umum telah diperluas untuk menampung 4.600 mayat dari 1.350 sebelumnya," kata pihak berwenang.

Organisasi non-pemerintah Forget Thee Not telah bermitra dengan pembuat peti mati ramah lingkungan, LifeArt Asia, untuk menyumbangkan 300 peti mati tersebut dan 1.000 kotak pengawet ke enam rumah sakit umum.

Setiap peti mati, terbuat dari karton dengan serat kayu daur ulang, dapat menahan berat hingga 200 kg. Ketika dimasukkan ke dalam peti mati atau kantong mayat, bahan pengawet seperti bubuk itu berubah menjadi gas, untuk menjaga tubuh dalam keadaan alami hingga lima hari.

"Kami berada di tengah badai," kata kepala eksekutif LifeArt Asia, Wilson Tong.



Simak Video "Faktor yang Memengaruhi Keparahan Pasien Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)