Kamis, 07 Apr 2022 22:32 WIB

Mengulik Mitos dan Fakta Seputar Mie Instan

Jihaan Khoirunnisa - detikHealth
Mie Instan Foto: Shutterstock/
Jakarta -

Siapa sih yang tidak suka dengan mie instan? Rasanya makanan ini menjadi salah satu yang paling digemari masyarakat.

Popularitas mie instan di Indonesia tercermin dari tingginya penjualan produk mie instan. Berdasarkan data Australian Export Grains Innovation Centre tercatat 13 miliar bungkus mie instan terjual di Indonesia setiap tahunnya.

Namun, di balik popularitasnya tersebut, banyak informasi yang beredar mengenai mie instan. Salah satunya terkait kandungan lilin dalam mie instan. Meski begitu, apakah informasi tersebut benar, atau sebatas mitos belaka?

Mengandung Lilin

Mie instan disebut-sebut mengandung lapisan lilin agar tidak saling menempel saat dimasak serta memperpanjang masa simpan. Sehingga air rebusan mie instan tidak aman untuk dikonsumsi. Hal ini ternyata tidak benar.

Faktanya, berdasarkan keterangan Agri-Food and Veterinary Authority of Singapore dari laman Singapore Food Agency, mie instan tidak dibuat menggunakan bahan baku lilin. Adapun warna mengkilat pada permukaan mie dihasilkan dari pemrosesan menggunakan suhu tinggi.

Tinggi Lemak dan Kalori

Proses pembuatan mie instan melalui penggorengan hingga kering alias deep fried, sehingga membuat kadar lemak di dalamnya cukup tinggi. Akan tetapi, kandungan lemak pada mie instan bervariasi, ada yang mengandung 12 gram lemak per saji, hingga 21 gram lemak per saji, yang berarti sudah mencapai hampir sepertiga dari batas asupan lemak harian.

Melansir Centre for Food Safety: The Government of the Hong Kong Special Administrative Region, tingginya kandungan lemak pada mie instan ini pun berkaitan dengan tingginya kandungan kalori pada mie instan. Jika tidak dibatasi, konsumsi mie instan malah bisa menyebabkan masalah berat badan.

Tinggi Akan Garam

Mie instan umumnya tinggi akan kandungan garam. Garam tersebut berasal dari penambahan saat proses pembuatan mie, serta kandungan garam yang terdapat di dalam bumbu.

Sebuah penelitian yang dirilis di MDPI menunjukkan kandungan garam pada 1 pack mie instan bisa mencapai 95% batas asupan garam harian yang dianjurkan oleh WHO. Hal ini jelas perlu diwaspadai karena dengan konsumsi makanan lainnya dalam sehari, batas asupan garam harian dapat dengan mudah terlewati. Ingat, asupan garam berlebih bisa meningkatkan risiko hipertensi.

Buang Air Rebusan Pertama

Hal ini tidak tepat. Berdasarkan keterangan di laman Centre for Food Safety: The Government of the Hong Kong Special Administrative Region, membuang air rebusan pertama, tidak lantas menghilangkan minyak yang mayoritas sudah terserap dari proses penggorengan saat produksi. Begitu juga mayoritas garam pada mie instan yang berasal dari penambahan bumbu. Sehingga membuang air rebusan pertama bukan solusi untuk mengurangi kadar garam pada mie instan.

Saat ini sudah ada pilihan mie instan yang lebih sehat. Coba Tropicana Slim Shirataki Noodle, pilihan mie dari umbi shirataki yang lebih baik karena rendah lemak, lebih rendah garam, dan tinggi serat. Tropicana Slim Shirataki Noodles hanya 100 Kalori per saji dengan rasa yang nikmat untuk membantu mewujudkan pola hidup sehat tanpa mengorbankan kenikmatan rasa.

(ncm/ega)