Soal Polemik BPA Galon Kemasan, Ini Kata Pakar ITB dan IPB

ADVERTISEMENT

Soal Polemik BPA Galon Kemasan, Ini Kata Pakar ITB dan IPB

Atta Kharisma - detikHealth
Jumat, 08 Apr 2022 21:36 WIB
Ilustrasi Galon Air Mineral
Foto: shutterstock
Jakarta -

Para akademisi membantah tudingan yang meragukan independensi mereka dalam menyampaikan pendapat ilmiah seputar polemik BPA dalam air galon kemasan polikarbonat. Mereka menegaskan pendapat tersebut disampaikan secara ilmiah dan profesional berdasarkan keahlian serta keilmuan.

"Kami memang ahli di bidang itu (BPA), kami bicara sebagai ahli. Dan saya tegaskan bahwa kami tidak pernah menerima apapun dari pihak lain terhadap apa yang kami sampaikan ke publik. Tudingan itu sudah bersifat subversif dan bisa dibawa ke pengadilan," ujar Pakar Polimer Institut Teknologi Bandung (ITB) Ahmad Zainal Abidin Rabu dalam keterangan tertulis, Jumat (8/4/2022).

Zainal mengatakan wajar bagi pakar untuk berbicara mengenai BPA. Ia malah mempertanyakan pihak yang meragukan pendapat yang disampaikan oleh para akademisi.

"Tapi kalau orang dari perkumpulan seperti FMCG ini yang sama sekali tidak mengerti tentang BPA terus ngomong tentang BPA dan malah mengajari kami para pakarnya, itu yang harus diragukan. Orang seperti ini yang patut dicurigai sudah ditunggangi pihak tertentu, bukan kami," ungkapnya.

Zainal menegaskan pernyataan tentang Polikarbonat (PC) dan PET yang ia sampaikan tidak asal bunyi, tapi ada dasar ilmiahnya.

"Pendapat-pendapat selain yang disampaikan para pakar ilmiah mengenai BPA itu kan sudah disebutkan Kemenkominfo dan BPOM juga sebagai hoaks karena tidak disupport oleh data-data ilmiah," imbuhnya.

Menurutnya, tudingan tidak benar yang dilontarkan kepada para akademisi terkait isu BPA menunjukkan pihak-pihak yang berusaha menjatuhkan produk-produk PC sudah kalah dalam pertarungan argumen ilmiahnya.

"Itu menunjukkan orang-orang itu sudah kalah di pertarungan ilmiah, sehingga banyak membuat berita-berita hoaks," ucap Zainal.

Ia menekankan para ilmuwan dan akademisi itu memiliki kredibilitas yang tidak mungkin diragukan lagi.

"Kita kan punya kredibilitas. Tapi sekarang dunia kan bisa bebas membuat berita. Tapi masyarakat juga nanti yang akan menilai mana yang benar mana yang hoaks," tukasnya.

Zainal juga mengatakan dalam membuat kebijakan terkait kemasan tersebut, BPOM selalu meminta tanggapan dari para pakar, termasuk soal pelabelan BPA ini.

"Kita sudah sampaikan ke BPOM pendapat kita, kenapa orang lain yang sama sekali tidak terkait masalah ini yang jadi ribut," sebutnya.

Terkait pelabelan BPA, Zainal meminta agar hal tersebut tak hanya diberlakukan kepada satu produk pangan saja, tapi untuk semua produk pangan.

"BPOM harus fair juga terkait pelabelan itu, karena makanan dan minuman kan tidak cuma galon. Ini ada aturannya BPOM-nya yang menyebutkan bahwa jaminan keamanan pangan itu dilakukan pada semua produk pangan," jelasnya.

Zainal menilai pelabelan secara scientific tidak perlu dilakukan sebab sudah ada jaminan dari BPOM dan Kemenperin bahwa produk-produk air kemasan galon aman untuk digunakan.

Uji laboratorium yang dilakukan BPOM juga membuktikan bahwa migrasi BPA dalam galon masih dalam batas aman atau jauh di bawah ambang batas aman yang sudah ditetapkan BPOM. Produk-produk tersebut juga sudah berlabel SNI dan memiliki nomor HS yang menandakan produknya aman.

Sementara itu, dosen dan peneliti di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan dan SEAFAST Center IPB Nugraha E. Suyatma menegaskan dirinya menulis apa adanya secara ilmiah terkait galon berbahan Polikarbonat dan PET.

"Saya bicara berdasarkan dengan fakta riset dan akademis dan tidak diskriminatif. Saya sampaikan secara netral dan meletakkan permasalahannya sesuai dengan porsinya. Jadi tidak ada kepentingan-kepentingan tertentu lah," tukasnya.

Dalam tulisan opininya tentang galon PC dan PET, Nugraha membandingkan dari beberapa aspek agar lebih adil, seperti aspek karakteristik fungsional kemasan, aspek lingkungan, aspek keamanan pangan, dan aspek ekonomi. Dari keempat aspek itu, Nugraha mengatakan bahwa plastik PC memiliki banyak keunggulan dibandingkan dari PET. Ia pun mengulas alasan-alasan ilmiah mengenai hal tersebut.

Baik Zainal dan Nugraha mengatakan tidak mengenal sama sekali nama organisasi FMCG Insights di dunia polimer maupun kemasan makanan.

Tidak hanya Zainal, ahli teknologi pangan sekaligus Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB Prof Dedi Fardiaz juga menyampaikan hal yang sama. Menurutnya, terkait migrasi dari zat kontak pangan ke produk pangannya sudah diatur dalam Peraturan BPOM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan.

"Di sana semua jelas sekali dipaparkan," tegasnya.

Peraturan tersebut tak hanya menjelaskan soal kemasan berbahan PC yang mengandung BPA saja, tapi juga produk lainnya seperti melamin perlengkapan makan dan minum, kemasan pangan plastik polystyrene (PS), kemasan pangan timbal (Pb), Kadmium (Cd), Kromium VI (Cr VI), merkuri (Hg), kemasan pangan Polivinil Klorida (PVC) dari senyawa Ftalat, kemasan pangan Polyethylene terephthalate (PET), serta kemasan pangan kertas dan karton dari senyawa Ftalat.

Terkait BPA, Dedi menyatakan BPOM telah menetapkan satuan untuk keamanan pangannya, atau yang disebut juga tolerable daily intake (TDI). Dimana sesuai ketentuan dalam Peraturan Badan POM Nomor 20 Tahun 2019 tentang Kemasan Pangan, batas migrasi maksimal BPA adalah sebesar 0,6 bagian per juta (bpj, mg/kg).

Dedi pun menuturkan pada pertengahan tahun lalu, BPOM telah melakukan pengujian migrasi BPA terhadap AMDK berbahan PC dan menemukan bahwa hasilnya sangat rendah bila dibandingkan dengan persyaratan kandungan dalam airnya.

"Setelah dihitung ternyata paparannya itu jauh sekali di bawah itu. Artinya relatif aman," pungkasnya.

(ads/ads)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT