ADVERTISEMENT

Sabtu, 09 Apr 2022 08:31 WIB

Testimoni Cuci Otak dan Vaknus Terawan Vs Bukti Uji Klinik

Firdaus Anwar - detikHealth
Eks Menkes dr Terawan Agus Putranto hadiri rapat kerja bersama Komisi IX DPR. Ia turut pamerkan Vaksin Corona Nusantara yang disebut aman untuk digunakan warga. Foto ilustrasi: Rengga Sancaya
Jakarta -

Banyak dukungan mengalir untuk eks Menteri Kesehatan (Menkes) Terawan Agus Putranto usai keanggotaannya diberhentikan dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Hal ini didasari masalah praktik Terawan menggunakan metode digital subtraction angiography (DSA) untuk 'mencuci otak' pasien stroke.

IDI beralasan belum ada bukti uji klinik yang mendukung DSA bisa digunakan sebagai terapi stroke. Terawan disebut berkali-kali dipanggil untuk melakukan pembelaan, namun kerap mangkir.

Selain kontroversinya dengan metode cuci otak, Terawan juga sempat memicu kontroversi karena memprakarsai vaksin Nusantara (vaknus). Dalam hal ini Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut vaksin Nusantara tidak lulus uji klinik.

Namun demikian, beberapa tokoh publik tetap ramai menyuarakan dan menunjukkan dukungannya untuk Terawan. Sebagian bahkan mengaku sudah mencoba sendiri proses terapi vaksin Nusantara atau cuci otak.

Testimoni Vs Bukti Sains

Pakar epidemiologi dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Pandu Riono meminta masyarakat mewaspadai testimoni yang dikeluarkan tokoh publik terkait terapi Terawan. Testimoni tokoh disebut bukan jaminan vaksin Nusantara sudah teruji.

"Seperti kita tahu Terawan dkk tidak mau melalui prosedur standar pengujian vaksin, dibujuklah para pejabat, selebriti, dll, untuk testimoni seakan-akan vaksin tersebut sudah oke. Waspadalah!" pesan dia dalam akun Twitter pribadinya, dikutip detikcom atas izin yang bersangkutan.

Ketua Asosiasi Dosen Hukum Kesehatan Indonesia, Dr dr M Nasser, SpKK, DLaw, secara khusus juga menyoroti testimoni sederet pejabat dan anggota DPR terkait efektivitas 'cuci otak' untuk stroke. Dalam ranah kedokteran, testimoni tidak menggantikan bukti ilmiah yang didapat dari uji klinis. Pasalnya, testimoni setiap orang bisa sangat subjektif dalam praktik yang dilakukan dokter.

"Kita sekarang tidak mengandalkan evidence based, tapi yang kita andalkan adalah testimony based medicine (TBM), orang bertestimoni saya enak, saya senang, saya gembira setelah di-DSA atau saya tidak sakit," jelas dr Nasser dalam diskusi virtual.

Terkait disertasi S3 Terawan yang juga membahas terapi tersebut, pakar farmakologi klinis Prof Rianto Setiabudi menyebut ada sejumlah kelemahan desain yang dinilainya sebagai 'cacat besar'. Termasuk, soal penggunaan heparin yang tidak sesuai peruntukannya dan tidak adanya kelompok pembanding sebagai kontrol.



Simak Video " Irma Chaniago Apresiasi Sikap Terawan yang Pilih Diam saat Dipecat IDI"
[Gambas:Video 20detik]
(fds/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT