ADVERTISEMENT

Kamis, 14 Apr 2022 09:00 WIB

Dokter Senior Tuding Terawan Tak Ksatria, Jadi Anggota Tapi Tak Patuhi IDI

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto Terawan 'dipecat' IDI. (Foto: Muhammad Ridho)
Jakarta -

Ketua Komite Kehormatan Etik dan Hukum Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia, (PERSPEBSI) Brigjen TNI (Purn) dr Djoko Riadi SpBS (K) menilai sikap mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto tidak ksatria. Komentar tersebut menanggapi polemik pemecatan Terawan dari keanggotaan IDI karena dinilai melakukan pelanggaran etik berat.

dr Djoko menegaskan setiap dokter sebenarnya tidak wajib menjadi anggota IDI. Ia mencontohkan banyak dokter yang menjadi direktur RS dan petinggi perusahaan tertentu tak ikut keanggotaan IDI lantaran tidak memerlukan surat rekomendasi izin praktik.

"Artinya menjadi anggota IDI sukarela, tidak ada paksaan, tidak ada satupun yang mengharuskan seorang dokter masuk IDI, tapi ingat IDI itu satu-satunya organisasi profesi yang menaungi kedokteran," jelas dia dalam webinar daring Mengupas Fakta di Balik Polemik IDI vs dr Terawan, Rabu (13/4/2022).

"Jadi karena sifatnya sukarela, maka anggotanya itu haru menaati AD ART-nya. Kita harus manut taat patuh pada semua ad ART-nya IDI, ini yang harus diingat, kalau kita sudah nggak mau lagi ya silahkan keluar," sambung pria yang juga sempat menjadi Kepala RSPAD Gatot Soebroto.

Terawan Dinilai Tak Ksatria

Alih-alih menyelesaikan masalah dengan mendatangi panggilan IDI, Terawan disebut dr Djoko membiarkan polemik bergulir sehingga tidak ada kepastian dari akhir kasus tersebut. Seperti diketahui, proses pemecatan Terawan sudah melalui jalan panjang, sejak 2018 silam.

"Nah peristiwa sekarang ini yang sedang heboh adalah konflik antara IDI dengan salah satu anggotanya yang melanggar etika kedokteran, ini yang tidak selesai," beber dia.

"Selalu mengalami kebuntuan, malahan oleh si anggota (Terawan) ini, isu ini tidak diselelsaikan, malah digulirkan menjadi masalah politik, golongan, kebencian, masalah yang lain," sambung dr Djoko.

Padahal, menurutnya polemik tersebut bisa langsung selesai jika ada kemauan dari Terawan untuk membahas lebih lanjut pelanggaran etik terkait metode 'cuci otak' dengan memenuhi panggilan IDI.

"Padahal ini sebetulnya adalah masalah kode etik, kalau dia mau menyelesaikan saja, masalah ini selesai, cuma ini yang menurut saya tidak ksatria dari anggota IDI yang menjadi anggota tapi melanggar AD ART ini," pungkas dia.



Simak Video "Menkes Turun Tangan Bakal Gelar Mediasi IDI dengan Terawan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT