ADVERTISEMENT

Kamis, 14 Apr 2022 12:30 WIB

Soal Konflik dengan IDI, Dokter Purnawirawan Ini Beri Pesan ke Terawan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
SBY dan Prabowo hadiri pemberian gelar profesor kehormatan ke Terawan (Foto: ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA) Foto: SBY dan Prabowo hadiri pemberian gelar profesor kehormatan ke Terawan (Foto: ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)
Jakarta -

Dokter senior sekaligus purnawirawan TNI buka suara soal polemik pemecatan Terawan Agus Putranto dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), imbas pelanggaran kode etik.

Brigjen TNI (Purn) dr Djoko Riadi SpBS (K) yang juga merupakan pakar bedah saraf menilai, sejak awal Terawan tidak pernah ada itikad baik untuk memenuhi panggilan Majelis Etik Kedokteran (MKEK IDI). MKEK IDI dalam hal ini, hendak mempertanyakan keabsahan metode 'cuci otak' yang kerap dipromosikan.

Karenanya, MKEK IDI seolah bertemu 'jalan buntu' hingga akhirnya keluar putusan Muktamar untuk pemecatan Terawan. Padahal, polemik ini menurut dr Djoko bisa diselesaikan dengan masalah kekeluargaan.

"Tidak pernah ada itikad baik dari anggota ini untuk menyelesaikannya secara AD ART IDI, tidak pernah, ini yang saya sangat sayangkan," tuturnya dalam webinar daring Mengupas Fakta di Balik Polemik IDI vs dr Terawan, Selasa (12/4/2022).

"Proses ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya, tidak diselesaikan, tidak tahu apa masalahnya, apakah dia tidak yakin bahwa penemuannya itu adalah baik, apakah dia tidak yakin penemuannya itu lulus uji klinik, ini yang disayangkan oleh saya," lanjut dia.

Ia kemudian meminta Terawan untuk tidak melawan aturan IDI, sebagaimana menjadi anggota adalah bentuk sukarela. Meski begitu, menurutnya masih ada waktu untuk Terawan bertemu dengan IDI, membahas persoalan yang sudah berlarut bertahun-tahun, alih-alih melibatkan unsur politik.

"Segera hubungi IDI, buka sidang MKEK IDI, ditelusuri masalah etikanya, ditelusuri masalah EBM-nya, buktikan bahwa ini adalah penemuan orang Indonesia yang original dan sangat baik untuk masyarakat," sambung Ketua Komite Kehormatan Etik dan Hukum Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia (PERSPEBSI) tersebut.

Di sisi lain, dr Djoko juga mengingatkan Terawan untuk menghormati MKEK IDI, yang bertugas mengawasi etika para dokter. Jika mendapat teguran, sudah selayaknya yang bersangkutan mematuhi ketentuan proses penilaian kode etik di MKEK IDI.

"Ketua MKEK itu orang-orang yang sudah terpilih, senior, yang sudah teruji pengetahuan akademiknya, apalagi pengetahuan etikanya, karena itu hormati mereka," pesan dia.

"Seorang anggota yang dianggap melanggar kode etik selayaknya mengikuti AD ART ini dengan baik, jangan melawan, jangan tidak mau datang, jangan tidak peduli, jangan menggunakan kekuasaannya untuk melawan IDI, ini sama sekali tidak ksatria," pungkas dokter yang sudah berpraktik lebih dari 46 tahun tersebut.



Simak Video "Butet Kartaredjasa: Saya Pokoknya Percaya sama Terawan"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT