Anak Tertinggal Imunisasi? Bisa Suntik Lebih dari 1 Jenis Vaksin Sekali Kunjungan

ADVERTISEMENT

Anak Tertinggal Imunisasi? Bisa Suntik Lebih dari 1 Jenis Vaksin Sekali Kunjungan

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Minggu, 17 Apr 2022 14:43 WIB
vaksin anak
Imunisasi anak. (Foto: Getty Images/iStockphoto/TAO EDGE)
Jakarta -

Sejak pandemi COVID-19 merebak, cakupan imunisasi dasar lengkap (IDL) menurun signifikan. Kementerian Kesehatan RI melaporkan selama tiga tahun terakhir ada 1,7 juta anak yang tertinggal imunisasi dasar lengkap.

Kota-kota besar paling banyak melaporkan ketertinggalan lantaran pemerintah daerah fokus pada pencapaian vaksinasi COVID-19 yang masuk program nasional. Jawa Barat menjadi provinsi yang paling banyak melaporkan ketertinggalan imunisasi dasar lengkap yakni 208.500 anak.

"Memang sejumlah provinsi besar yang gencar melakukan vaksinasi nasional belum terlalu tinggi cakupannya sehingga secara nasional (imunisasi dasar lengkap) kita masih menurun di 2021 dibandingkan 2020," kata Plt Direktur Pengelolaan Imunisasi Direktorat Jenderal P2P dr Prima Yosephine, MKM, dalam agenda Pekan Imunisasi Dunia Kemenkes RI Senin (14/4/2022).

Anak Boleh Suntik Lebih dari Satu Vaksin

dr Arifianto SpA (K) Champion Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) membeberkan cara mengejar ketertinggalan imunisasi anak. Mengutip data Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), ia menekankan anak sebenarnya boleh menerima imunisasi lebih dari satu jenis dalam sekali kunjungan.

"Ternyata boleh memberikan lebih dari satu suntikan, dalam sekali kunjungan."

"Artinya apa? Anak ini kalau kita berikan suntikan di paha, ada titik-titik lain yang bisa diberikan. Ini yang dokter anak praktikkan dalam satu tempat itu bisa dua suntikan, intinya adalah ada jarak 2,5 sentimeter," beber dr Arifianto dalam kesempatan yang sama.

Karenanya, orangtua tidak perlu memilih salah satu imunisasi, misalkan melanjutkan imunisasi difteri, pertusis, dan tetanus (DPT) terlebih dahulu kemudian diselang beberapa waktu untuk menerima vaksin measles campak dan rubella (MR). Keduanya bisa langsung diberikan secara bersamaan dan dipastikan aman.

Menurut dia, riset menunjukkan jumlah kunjungan imunisasi juga berpengaruh pada trauma psikologis anak. Selain menghindari risiko tersebut, keamanan pemberian lebih dari satu jenis imunisasi di sekali kunjungan sudah terbukti berdasarkan data ilmiah dunia.

"Penelitian membuktikan ketika anak lebih sering berkali-kali di-imunisasi itu ternyata bisa menimbulkan trauma psikologis yang lebih besar, jumlah kunjungan imunisasi itu membuat dia trauma," terang dokter spesialis anak tersebut.

"Dengan memperkecil jumlah kunjungan tadi, memberikan lebih dari satu vaksin dalam satu kali kunjungan diharapkan justru mengurangi trauma tadi, secara prinsip imunologi itu sudah ada CDC tidak ada masalah untuk memberikan vaksin secara simultan (bersamaan) tadi," sambung dia.

Ancaman Kejadian Luar Biasa

Jika diakumulasi, ada 1.714.471 juta anak tertinggal imunisasi dasar lengkap di tiga tahun terakhir sejak 2019 hingga 2021 saat COVID-19 mewabah di Tanah Air. dr Prima menyebut risiko munculnya Kejadian Luar Biasa (KLB) atau wabah penyakit tertentu karena ketertinggalan imunisasi anak ini, menjadi sangat tinggi. Jawa Barat, Aceh, Sumatera Utara, hingga DKI Jakarta melaporkan jumlah ketertinggalan imunisasi paling banyak, lebih dari 100 ribu anak.

dr Prima menegaskan sulit menghindari risiko KLB jika tidak ada kekebalan komunitas atau herd immunity di sejumlah populasi. Sementara herd immunity baru bisa terbentuk jika 70 hingga 100 persen dari populasi sudah menyelesaikan imunisasi lengkap.

"Dengan menurunnya cakupan imunisasi rutin lengkap, maka semakin turun pula tingkat kekebalan komunitas terhadap PD3I difteri campak dan lain-lain," sebut dr Prima.

Bukan cuma soal itu, warga yang masih meragukan kehalalan vaksin dan efek samping juga masih kerap dilaporkan. Padahal, sebelum diberikan kepada masyarakat, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) hingga Majelis Ulama Indonesia (MUI) sudah memastikan aspek keduanya tak bermasalah.

"Kemudian kita masih juga menemukan penolakan imunisasi isu negatif yang bereda di masyarakat isu halal haram dan juga takut akan KIPI yang terjadi," lanjut dia.

Tren penurunan cakupan imunisasi dasar lengkap tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi di dunia, khususnya regional South East Asia Region (SEARO). Dr Paba Palihawadana Medical Officer WHO Indonesia menyebut telah terjadi penurunan pemberian imunisasi dasar lengkap, dari semula 91 persen di 2019 menjadi 85 persen per 2020.

"Jumlah anak yang belum lengkap imunisasinya meningkat menjadi 4,9 juta," terang Paba menyoroti penurunan drastis imunisasi sejak pandemi COVID-19 merebak.

"Hal ini dapat menimbulkan bahaya penyakit yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi," sambung dia.

Sebelumnya, juru bicara vaksinasi COVID-19 dr Siti Nadia Tarmizi mengimbau anak segera melengkapi imunisasi dasar untuk membantu mencegah perburukan akibat COVID-19. Jika anak memiliki kekebalan atau imunitas yang baik terhadap sejumlah penyakit termasuk difteri, campak rubella dan lainnya, risiko mereka saat terpapar COVID-19 juga menjadi lebih rendah.



Simak Video "Polio Naik Lagi, Kok Bisa?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/naf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT