Rabu, 27 Apr 2022 15:30 WIB

Bukan Cuma Antibodi yang Bikin Warga RI 'Kebal' Corona, Begini Kata Pakar

Vidya Pinandhita - detikHealth
Kasus COVID-19 di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya DKI, mengalami penurunan. Namun bukan berarti virus Corona sudah hilang karena kita masih berperang melawan COVID-19. (Foto: dok detikcom)
Jakarta -

Tingkat antibodi bukanlah patokan efektivitas vaksin COVID-19. Pasalnya, tingkat antibodi yang tinggi tak menjamin seseorang bebas dari risiko paparan virus Corona. Lantas, pentingkah mengecek tingkat antibodi pada tubuh untuk melihat risiko paparan COVID-19?

Hal tersebut disampaikan oleh spesialis paru dari Divisi Indeksi Departemen Pulmonologi dan Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), dr Erlina Burhan, SpP(K). Ditegaskan, masyarakat Indonesia kerap kali salah paham soal efek tingkat antibodi terhadap risiko paparan virus Corona.

"Saya ingat di awal 2021, orang diberi vaksin, baru beberapa hari pertama langsung cek antibodi. Saya kira ini miskonsepsi," ujarnya dalam acara 'Understanding COVID-19 Vaccine Effectiveness' di Jakarta Selatan, Rabu (27/4/2022).

"(Tingkat antibodi) bervariasi. Ada yang jumlahnya sedikit, ada yang tinggi. Tapi perlu diingat ini bukan prediktor yang bisa diandalkan untuk melihat efektivitas vaksin dan bukan untuk mengetahui kalau setinggi ini busa mencegah rawat inap, segini bisa mencegah meninggal," imbuhnya.

dr Erlina menegaskan, tingkat antibodi bukanlah acuan yang tepat untuk melihat efektivitas vaksin COVID-19. Pasalnya, risiko sakit seseorang bukan hanya dipengaruhi oleh tingkat antibodi, melainkan juga faktor-faktor lain seperti imunitas, perilaku, dan jumlah virus yang masuk.

"Di masyarakat itu, miskonsepsi menganggap antibodi saya rendah, saya gampang sakit. Atau (antibodi) saya tinggi, saya aman. Nggak begitu juga karena untuk orang sakit itu, banyak faktor," jelasnya lebih lanjut.

"Untuk seseorang terinfeksi, ada faktor imunitasnya. Kadar antibodi belum ada standarnya sampai sekarang untuk melindungi," pungkas dr Erlina.



Simak Video "Faktor yang Memengaruhi Keparahan Pasien Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/fds)