Minggu, 01 Mei 2022 09:00 WIB

Jadi yang Pertama, Denmark Setop Vaksin COVID-19! Ini Alasannya

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Program vaksinasi massal di Tangerang terus dilakukan. Vaksinasi COVID-19 kini sasar orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) dan individu berkebutuhan khusus (IBK). Denmark menyetop vaksin COVID-19, ada apa? (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Denmark menjadi negara pertama yang menyetop program vaksinasi COVID-19. Negara tersebut meyakini virus sudah terkendali.

"Musim semi telah tiba, cakupan vaksin pada populasi Denmark tinggi, dan epidemi telah berbalik," kata Otoritas Kesehatan Denmark dalam pernyataan mereka, Rabu (27/4/2022).

"Oleh karena itu, Dewan Kesehatan Nasional sekarang mengakhiri upaya vaksinasi luas terhadap COVID-19 untuk musim ini," katanya.

Dikutip dari CNBC, mulai 15 Mei semua orang tidak lagi wajib divaksinasi COVID-19. Kampanye vaksinasi nasional di Denmark dimulai 2020 lalu saat Natal, hingga kini sekitar 4,8 juta warga sudah divaksinasi dengan lebih dari 3,6 juta menerima suntikan booster.

Di waktu yang sama, banyak orang terpapar varian Omicron tetapi tingkat kekebalan pada populasi diklaim tinggi sehingga angka kematian dan rumah sakit bisa ditekan.

"Kami berada di tempat yang baik," komentar Bolette Soborg, manajer unit di Dewan Kesehatan Nasional.

"Kami memiliki kontrol yang baik terhadap epidemi, yang tampaknya mereda. Tingkat pasien (ke rumah sakit) stabil dan kami juga berharap mereka segera turun."

Soborg bersikeras bahwa masyarakat masih dapat divaksinasi selama musim semi dan musim panas jika mereka mau, dan situs vaksinasi akan tetap buka di seluruh negeri.

Dia menambahkan bahwa imunisasi masih direkomendasikan kepada orang-orang yang berisiko tinggi terkena COVID-19 seperti usia di atas 40 tahun dan wanita hamil yang tidak divaksinasi.

"Kami juga terus menyarankan Anda untuk menyelesaikan vaksinasi," katanya.

Langkah Denmark untuk menangguhkan program vaksinasinya dilakukan ketika situasi Covid di seluruh dunia masih beragam. Eropa dan AS telah meninggalkan sebagian besar pembatasan COVID-19, tetapi China masih memberlakukan lockdown ketika virus menyebar di kota-kota besar seperti Shanghai dan Beijing.

Namun, bukannya membatalkan program vaksinasi sama sekali, Otoritas Kesehatan dan Obat-obatan Denmark mengatakan mungkin akan ada kebutuhan untuk kembali mewajibkan vaksinasi COVID-19 jika virus terus bermutasi.

Simak juga Video: Alasan Pemerintah Tak Ikuti Jejak Denmark Longgarkan Prokes Corona

[Gambas:Video 20detik]



(naf/naf)