Ukraina Kekurangan Antibiotik, Ratusan Fasilitas Kesehatan Hancur Akibat Perang

ADVERTISEMENT

Ukraina Kekurangan Antibiotik, Ratusan Fasilitas Kesehatan Hancur Akibat Perang

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Jumat, 06 Mei 2022 19:01 WIB
ilustrasi obat
Ilustrasi obat. (Foto: iStock)
Jakarta -

Semenjak Februari lalu, perang antara Ukraina dan Rusia masih terus berlangsung. Dikutip dari Global News, Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyatakan Invasi Rusia ke Ukraina telah menghancurkan ratusan rumah sakit dan institusi medis.

Imbas dari rusaknya fasilitas layanan kesehatan ini membuat dokter kekurangan obat untuk mengatasi kanker atau kemampuan untuk melakukan operasi.

"Jika anda hanya mempertimbangkan infrastruktur medis, pada hari ini pasukan Rusia telah menghancurkan atau merusak hampir 400 institusi kesehatan: rumah sakit, bangsal bersalin, klinik rawat jalan," kata Zelenskyy dalam pernyataan video, dikutip dari Global News, Jumat (6/5/2022).

Zelenskyy mengatakan banyak tempat bahkan kekurangan antibiotik dasar di timur dan selatan Ukraina tempat medan perang utama berlangsung.

"Jumlah ini dilengkapi dengan kekurangan pengobatan untuk pasien kanker. Ini berarti kesulitan ekstrim atau kekurangan insulin untuk diabetes. Tidak memungkinkannya dilaksanakan operasi. Itu bahkan berarti, secara sederhana, juga kekurangan antibiotik," sambungnya.

Direktur Eksekutif UNICEF Catherine Russell, Direktur Eksekutif UNFPA Natalia Kanem, bersama Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus juga mengecam tindakan penghancuran pada fasilitas kesehatan dan menyerang petugas kesehatan.

Dalam pernyataan tertulis mereka pada website resmi UNICEF menyatakan, serangan terhadap fasilitas kesehatan dan petugas kesehatan akan berdampak langsung pada layanan kesehatan esensial yang seharusnya masyarakat dapatkan.

"Serangan terhadap perawatan kesehatan dan petugas kesehatan berdampak langsung pada kemampuan masyarakat untuk mengakses layanan kesehatan esensial - terutama wanita, anak-anak, dan kelompok rentan lainnya," tulis mereka.

Dampak rusaknya fasilitas kesehatan ini paling terasa akan berimbas pada wanita hamil, ibu baru, anak kecil dan orang tua di Ukraina.

"Misalnya, lebih dari 4.300 kelahiran telah terjadi di Ukraina sejak dimulainya perang dan 80.000 wanita Ukraina diperkirakan akan melahirkan dalam tiga bulan ke depan. Oksigen dan suplai medis, termasuk untuk penanganan komplikasi kehamilan, hampir habis," sambung mereka.

Sementara itu dikutip dari Al-Jazeera, dokter National Health Service (NHS) dan dosen pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Leeds, dr Amir Khan, menyatakan bahwa perang ini akan membuat kurangnya pasokan makanan dan air bersih yang tersisa. Kekurangan akan dua hal tersebut akan berdampak buruk bagi kesehatan warga Ukraina.

"Kekurangan makanan juga dapat menyebabkan individu menderita kekurangan gizi, sementara akses terbatas ke air bersih dapat membantu penyebaran penyakit," ungkapnya dikutip pada Jumat (6/5/2022).

"Air yang aman dan tersedia sangat penting untuk kesehatan masyarakat, apakah itu digunakan untuk minum, keperluan rumah tangga, produksi makanan atau tujuan rekreasi. Air yang tercemar dan sanitasi yang buruk berkaitan dengan penularan penyakit seperti kolera, diare, disentri, hepatitis A, tifus, dan polio," pungkasnya.



Simak Video "Kekhawatiran WHO Terkait Serangan Rusia ke Ukraina"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT