ADVERTISEMENT

Sabtu, 07 Mei 2022 13:30 WIB

Yakin Masih Percaya 'Tes Keperawanan'? Dokter Ungkap Faktanya

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Lips embroidered with red thread on white fabric. Lips sewn with black thread. Foto: Getty Images/iStockphoto/Natalija Grigel
Jakarta -

Tidak sedikit orang yang masih memperdebatkan soal tes keperawanan. Padahal, para pakar telah menyebutkan tes keperawanan untuk mengukur keutuhan selaput dara adalah sesuatu yang tidak jelas.

Praktisi kesehatan dr Putri Widi Saraswati juga mengatakan hymen atau selaput dara pada wanita sangat variatif. Baik dari bentuk, elastisitas, hingga ketebalannya. Selaput dara tidak bisa dijadikan rujukan seseorang wanita perawan atau tidak.

"Variasi ini yang akan membuat ketika saat inspeksi atau melihat pernah ada robekan atau tidak sulit untuk melakukan itu," ujarnya dalam diskusi daring beberapa waktu lalu.

"Ada teori yang bilang bahwa ketika masih dalam kandungan atau sesaat setelah lahir (fungsi hymen) untuk melindungi vagina saat bayi tapi kemudian di masa dewasa tidak diketahui lagi fungsinya apa," paparnya.

Lebih lanjut, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dengan tegas telah menyatakan tes keperawanan atau pemeriksaaan ginekologi dengan tujuan untuk memeriksa apakah seorang wanita telah berhubungan seks atau tidak, harus diakhiri. Tes keperawanan adalah tradisi lama yang telah didokumentasikan di setidaknya 20 negara yang mencakup semua wilayah di dunia

WHO menyatakan "keperawanan" bukanlah istilah medis atau ilmiah. Sebaliknya, konsep "keperawanan" adalah konstruksi sosial, budaya dan agama, yang kerap mencerminkan diskriminasi gender terhadap perempuan dan anak perempuan.

Hak Asasi Manusia PBB, Wanita PBB dan WHO berkomitmen untuk mengakhiri tes keperawanan dan memastikan bahwa hak-hak semua wanita dan anak perempuan ditegakkan.

Tes keperawanan ini juga dilakukan pada tubuh yang sangat personal. Ia melanjutkan, jika dilihat dari kacamata hak kesehatan seksual dan reproduksi, tes keperawanan adalah pelanggaran terhadap hak seksual dan pelanggaran terhadap integritas tubuh.



Simak Video "Rektor UGM Komentari Sinyal WHO Soal Akhir Pandemi Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT