ADVERTISEMENT

Senin, 09 Mei 2022 08:02 WIB

Dijalani Raja Salman, Apa Itu Kolonoskopi yang Bisa Deteksi Kanker Usus Besar?

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
FILE - In this Dec.10, 2019, file photo, Saudi King Salman talks during the 40th Gulf Cooperation Council Summit in Riyadh, Saudi Arabia. Saudi Arabias King Salman was discharged from a hospital in the capital, Riyadh, after more than a week following surgery to remove his gall bladder, the Royal Court said in a statement late Thursday, July 30, 2020. (AP Photo/Amr Nabil, File) Raja Salman masuk RS, jalani prosedur kolonoskopi. (Foto: AP Photo/Amr Nabil, File)
Jakarta -

Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz menjalani prosedur kolonoskopi di Rumah Sakit Spesialis King Faisal Jeddah. Media lokal Saudi Press Agency menyebut hasil tes pada Minggu (8/5) menunjukkan dirinya baik-baik saja.

Meski begitu, para dokter memutuskan Raja Salman perlu dirawat di RS untuk beristirahat selama beberapa waktu. Apa itu kolonoskopi?

Prosedur Kolonoskopi

Tes ini dilakukan untuk melihat kemungkinan masalah di usus besar hingga rektum. Umumnya dapat digunakan untuk mendeteksi adanya kanker usus besar.

Raja Salman sebelumnya diketahui menjalani tes medis di RS. Tahun 2020 silam dirinya tengah menjalani operasi kantong empedu dan dokter mengganti baterai alat pacu jantungnya di Maret.

Tahap Kolonoskopi

Dikutip dari Medical News Today, kolonoskopi membantu dokter mendeteksi kelainan pada usus, termasuk tanda-tanda kanker kolorektal. Selama pemeriksaan, dokter memasukkan kolonoskop, tabung kecil fleksibel dengan kamera terpasang melalui rektum dan masuk ke usus besar. Dokter juga dapat mengambil sampel jaringan (biopsi) atau mengangkat jaringan abnormal selama prosedur.

Waktu Pemeriksaan

Kolonoskopi memakan waktu 30-60 menit. Namun, pasien biasanya membutuhkan waktu 2-3 jam untuk persiapan dan masa pemulihan.

Sebelum kolonoskopi dilakukan, pasien akan menerima obat penenang baik dalam bentuk pil maupun intravena. Selama prosedur, orang tersebut biasanya akan mengenakan baju pasien RS dan berbaring miring di atas meja pemeriksaan. Dokter akan memasukkan kolonoskop ke dalam rektum.

Ketika dokter menggerakkan kolonoskop, pasien mungkin merasakan ketidaknyamanan perut atau keinginan untuk buang air besar. Efek semacam ini sebenarnya normal. Jika dokter memutuskan mereka perlu melakukan biopsi atau mengangkat jaringan abnormal, mereka kemudian akan memasukkan instrumen lain melalui rektum.

Kapan Pasien Perlu Kolonoskopi?

Kolonoskopi adalah cara utama di mana dokter menyelidiki gejala gastrointestinal bagian bawah, seperti:

  • Perdarahan dari rektum
  • Sembelit kronis
  • Diare kronis
  • Sakit perut

Komunitas medis juga menganggap kolonoskopi sebagai gold standard untuk skrining kanker kolorektal. Jenis kanker ini adalah salah satu jenis yang paling umum dialami pria maupun wanita di AS.

Kolonoskopi dapat mendeteksi kanker kolorektal stadium awal sebelum gejala semakin berat. Deteksi dini penting untuk melakukan pengobatan secepat mungkin.

Seorang dokter dapat merekomendasikan kolonoskopi bagi kriteria berikut:

  • Memiliki kerabat tingkat pertama dengan riwayat polip usus besar atau kanker usus besar
  • Berada pada risiko yang lebih tinggi karena riwayat medis pribadi mereka
  • Berusia 50 tahun atau lebih, bahkan jika tidak ada faktor risiko lain.


Simak Video "Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Menjalani Intermittent Fasting"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT