Usai Lebaran, Terpikir Menikah dengan Sepupu? Pikirkan Juga Risikonya

ADVERTISEMENT

Usai Lebaran, Terpikir Menikah dengan Sepupu? Pikirkan Juga Risikonya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Rabu, 11 Mei 2022 05:30 WIB
Asian couples quarrel sit in bed ,they argue not to talk to each other. They are unhappy
Risiko genetik menikah dengan sepupu (Foto: Getty Images/iStockphoto/torwai)
Jakarta -

Hampir setiap tahun, pertanyaan tentang boleh tidaknya menikah dengan sepupu banyak terlontar di momen lebaran baik dalam keseharian maupun di tren pencarian Google. Terlepas dari boleh dan tidaknya, ada baiknya mengenali juga risikonya.

Pada prinsipnya, perkawinan antar kerabat dekat dianggap lebih berisiko menurunkan sifat-sifat genetik tertentu. Beberapa penyakit bawaan memiliki sifat autosomal recessive, yang artinya bisa muncul ketika sesama carrier atau pembawa gen-gen resesif menikah dan kemudian punya anak.

Dalam rubrik konsultasi detikHealth, pakar genetika Teguh Haryo Sasongko menjelaskan bahwa pernikahan dengan sesama kerabat hingga sepupu II (great grandparents yang sama) disebut sebagai consanguineous marriage atau secara umum diterjemahkan sebagai perkawinan sedarah.

"Penelitian-penelitian secara populasional menunjukkan bahwa anak-anak hasil perkawinan sedarah ini memiliki risiko lebih besar menderita penyakit-penyakit genetik tertentu," tulisnya. SELENGKAPNYA BACA DI SINI

Salah satu penyakit yang bersifat autosomal recessive adalah Thalasemia. Kelainan genetik ini mempengaruhi produksi hemoglobin yang menyebabkan pengidapnya kekurangan sel darah merah dan pada kondisi tertentu akan membutuhkan transfusi darah seumur hidup.

Salah satu upaya mencegah thalasemia adalah dengan screening untuk mengenali carrier atau pembawa sifat yang disebut juga thalasemia minor. Pernikahan antar pembawa sifat memberikan peluang 50 persen memiliki anak dengan Thalasemia minor (pembawa sifat) dan 25 persen dengan thalasemia mayor yang membutuhkan transfusi darah.

Plt Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI, dr Elvieda Sariwati, M.Epid, menyebut Indonesia termasuk dalam Thalassemia belt atau sabuk Thalasemia dengan prevalensi 5-7 persen adalah pembawa sifat. Ini artinya, ada sekitar 14 juta pembawa sifat dari populasi yang ada.

"Fakta lainnya adalah bahwa 50 persen saudara kandung, atau kita katakan ring-1, adalah pembawa sifat," kata dr Elvida dalam konferensi pers Hari Thalasemia Sedunia, Selasa (10/5/2022).

Prof Dr dr Pustika Amalia Wahidiyat, SpA(K) dari Kelompok Staf Medis (KSM) Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-RS Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) menjelaskan, Thalasemia bisa dicegah melalui screening pranikah. Screening thalasemia menurutnya juga perlu dilakukan jika ada saudara kandung atau ring-1 yang mengidap thalasemia mayor.

"Lebih bagus lagi, kalau di keluarga itu ada yang (Thalasemia) mayor, artinya kan orang tuanya pasti minor, itu keluarga bapak-ibu sebetulnya juga harus dicari," jelas Prof Lia.

"Kenapa, karena mereka juga potensi untuk ada minor-minor lain," pungkasnya.

Punya pendapat tentang opsi menikah dengan sepupu? Tuliskan di komentar ya.

Simak juga video 'Kondisi yang Memicu Post-Holiday Blues Usai Liburan':

[Gambas:Video 20detik]



(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT