Rabu, 11 Mei 2022 07:33 WIB

WHO Sentil Strategi Zero COVID-19 China, Minta Tak Dilanjutkan

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Jakarta -

Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kebijakan tanpa toleransi 'zero COVID-19' yang diterapkan China tidak bisa dipertahankan lagi. Komentar ini muncul usai para pemimpin di China memutuskan untuk meneruskan kebijakan itu.

"Kami tidak berpikir itu bisa dilakukan berkelanjutan, mengingat perilaku virus dan apa yang sekarang kami antisipasi di masa depan," kata Tedros dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Rabu (11/5/2022).

"Kami telah mendiskusikan masalah ini dengan para ahli di China. Dan kami mengindikasikan bahwa pendekatan tersebut (zero COVID-19) tidak akan berkelanjutan. Saya pikir perubahan akan sangat penting," jelasnya.

Menurut Tedros, peningkatan pengetahuan tentang virus dan alat yang lebih baik untuk memerangi COVID-19 juga sudah harus diubah strateginya.

Pada kesempatan yang sama, direktur kedaruratan WHO Mike Ryan mengatakan dampak dari kebijakan zero COVID-19 ini berpengaruh pada hak asasi manusia. Hal inilah yang juga perlu dipertimbangkan.

"Kami selalu mengatakan sebagai WHO bahwa kami perlu menyeimbangkan langkah-langkah pengendalian terhadap dampaknya pada masyarakat, ekonomi, dan itu tidak selalu merupakan kalibrasi yang mudah," beber Mike Ryan.

"Dapat dimengerti, bahwa negara itu ingin mengambil tindakan keras untuk mengekang penularan virus Corona," lanjutnya.

Namun, kebijakan zero COVID-19 itu menuai kritik dari para ilmuwan hingga rakyatnya. Sebab, kebijakan yang dilakukan dengan mengunci (lockdown) ratusan juta orang di rumahnya itu memicu kesedihan dan kemarahan.

Hal ini membuat sebagian besar negara bagian di China yang awalnya menerapkan zero COVID-19 itu kini mulai transisi ke strategi lain, salah satunya hidup berdampingan dengan virus.

(sao/naf)