Jumat, 13 Mei 2022 09:30 WIB

Dikritik WHO, Ini Alasan China Tetap Terapkan Kebijakan 'Zero COVID'

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
China menerapkan pembatasan ketat di kawasan Beijing imbas penyebaran virus Corona. Salah satu kota terbesar di China itu kini sepi. Ini penampakannya. Corona di China. (Foto: AP Photo/Andy Wong)
Jakarta -

Saat banyak negara yang mulai melonggarkan aturan COVID-19, China justru melakukan lockdown ketat atau dikenal dengan kebijakan 'zero COVID'. Ini dilakukan usai terjadi lonjakan kasus COVID-19 di negara tersebut.

Warga Shanghai dan Beijing menjalani pembatasan ketat selama puluhan hari. Selama itu, mereka tidak diperbolehkan meninggalkan rumah. Bahkan untuk mendapatkan makanan dan air, mereka harus menunggu kiriman dari pemerintah.

Sebenarnya, Apa Alasan China Masih Menerapkan Zero COVID?

Dikutip dari laman Bloomberg, sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine memperkuat alasan China masih terus memperketat pembatasan di Shanghai dan Beijing. Menurut para peneliti di Universitas Fudan, Shanghai, pengetatan itu dilakukan karena China memiliki risiko tinggi untuk mengalami 'tsunami' infeksi COVID-19.

Jika kebijakan zero COVID ini diabaikan, kemungkinan bisa terjadi 1,6 juta kematian di negara tersebut. Studi yang telah ditinjau sejawat ini menemukan bahwa tingkat kekebalan dari vaksin COVID-19 pada Maret di China 'tidak cukup' untuk mencegah terjadinya gelombang Omicron, yang bisa membanjiri kapasitas perawatan intensif.

Alasan lainnya, ada ancaman dari tingkat vaksinasi yang rendah di kalangan orang tua. Selain itu, adanya kemungkinan kemampuan varian Corona Omicron untuk menghindari kekebalan dari vaksin booster yang ada.

Hasil Simulasi China Tanpa Lockdown Ketat

Para peneliti menggunakan pemodelan komputer untuk mensimulasikan COVID-19. Dengan metode itu, mereka memperkirakan dampak yang terjadi jika China melepaskan kebijakan zero COVID.

Hasilnya, bisa terjadi lonjakan pasien Corona yang kritis dan tentunya bisa membebani fasilitas rumah sakit hingga hampir 16 kali lipat dari yang disediakan China saat ini.

Diperkirakan, penyebaran varian Omicron secara total bisa menyebabkan 112,2 juta kasus bergejala, 5,1 juta rawat inap, dan 1,6 juta kematian akibat gelombang besar yang terjadi antara Mei dan Juli 2022.

Jika 1,6 juta kematian benar terjadi, itu akan menjadikan China sebagai negara dengan angka kematian COVID-19 tertinggi di dunia. Bahkan, itu 50 persen lebih banyak daripada yang dilaporkan Amerika Serikat selama COVID-19 terjadi.

Dari perkiraan tersebut, tiga perempat kematian akan terjadi pada kelompok usia 60 tahun atau lebih yang belum mendapatkan vaksinasi.

Kebijakan Zero COVID Dikritik WHO

Sebelumnya, kebijakan zero COVID atau nol COVID-19 ini juga sempat dikritik Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus. Menurutnya, kebijakan itu tidak bisa dilanjutkan lagi.

"Kami tidak berpikir itu bisa dilakukan berkelanjutan, mengingat perilaku virus dan apa yang sekarang kami antisipasi di masa depan," kata Tedros dalam konferensi pers, dikutip dari Reuters, Rabu (11/5/2022).

"Kami telah mendiskusikan masalah ini dengan para ahli di China. Dan kami mengindikasikan bahwa pendekatan tersebut (zero COVID-19) tidak akan berkelanjutan. Saya pikir perubahan akan sangat penting," jelasnya.



Simak Video "Komunitas Relawan di Shanghai Turun Tangan Bantu Warga yang Karantina"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)