ADVERTISEMENT

Minggu, 15 Mei 2022 12:22 WIB

Menikah dengan Sepupu Tak Dilarang, Dokter Cuma Nitip Pesan Ini

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta -

Jatuh cinta lalu ingin menikah dengan sepupu, boleh nggak sih? Dokter menyebut tidak ada larangan yang rigid alias kaku, tetapi tetap ada risiko yang harus diperhitungkan.

Bahkan di dunia kesehatan, dr Andi Khomeini Takdir Haruni, SpPD-KPsi, dari Junior Doctor Network Indonesia menyebut tidak ada istilah khusus untuk menyebut perkawinan antar kerabat dekat. Para dokter umumnya hanya akan memberikan 'warning' dan rekomendasi, bukan larangan, untuk menikah dengan sepupu.

"Boleh nggak dilarang. Dalam agama juga kayaknya nggak dilarang ya," kata dr Koko, sapaannya, dalam program e-Life detikcom, Jumat (13/5/2022).

"Dan juga dalam perspektif kesehatan juga tidak rigid dilarang. Tapi sebaiknya mereka mengenali apakah dalam keluarga mereka ada risiko penyakit tertentu," jelasnya.

Menurut dr Koko, ada beberapa kondisi kesehatan yang dipengaruhi oleh faktor genetika. Sifat-sifat genetis tersebut dapat diturunkan ketika sesama pembawa sifat menikah dan menghasilkan keturunan. Ia mencontohkan jika salah satu calon pasangan memiliki riwayat diabetes.

"Apakah nggak boleh kawin? Oh, nggak juga bicara begitu. Kita bicaranya adalah, oh ya bener mungkin ada faktor gen yang akan diwariskan," terang dr Koko.

"Mungkin nanti anaknya memiliki risiko yang lebih tinggi untuk menderita diabetes di kemudian hari," jelasnya.

Catatan penting diberikan dr Koko jika dalam keluarga pernah ada masalah perdarahan yang sulit berhenti, sampai harus dirawat di rumah sakit. Riwayat seperti ini bisa jadi mengindikasikan gangguan pembekuan darah hemofilia.

"Nah kalau ada riwayat seperti ini terjadi, maka dalam satu keluarga sebaiknya tidak melakukan pernikahan dekat. Karena risikonya untuk anak mengalami hemofilia menjadi lebih tinggi," pesan dr Koko.

Dalam perkawinan, dr Koko menyebut screening riwayat penyakit penting dilakukan untuk mencegah hal-hal semacam itu. Bahkan tidak terbatas hanya dalam hal genetis, tetapi juga menyangkut kebiasaan sehari-hari yang sebenarnya juga bisa 'diturunkan'.

"Kalau orang tua sering jajan, maka anaknya juga bisa jadi tukang jajan. Atau obesitas. Obesitasnya karena apa? Mungkin ada genetik 10-20 persen, oke. Tapi (kalau) karena males olahraga, maka anak kalau tidak diberikan contoh dia akan malas olahraga," terang dr Koko.

(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT