Kamis, 19 Mei 2022 12:17 WIB

Obsesi Berat pada Idol Kpop, Termasuk Gangguan Kejiwaan?

Tim detikHealth - detikHealth
SUWON, SOUTH KOREA - JUNE 18:  A South Korean fan (L) of a boy band, Exo, (not shown) holds a banner as a K-Pop band perform on stage on June 18, 2016 in Suwon, South Korea.The particular concert was organized by the city government of Suwon, commemorating the 220th anniversary of Suwon-Hwaseong Fortress, a UNESCO heritage site. It featured 25 K-Pop idol groups and solo artists for two days: June 17 and 18, 2016, drawing more than 10,000 visitors. The South Korean government, both on a central and local level, try to boost tourism by sponsoring and directly organizing K-Pop concerts in big venues. The fans come from Korea as well as Japan, China, and Southeast Asia, as the popularity of K-pop had rapidly grown after it started in Japan in the early 2000s, and expanded its fan base to teenagers and young adults in China, Southeast Asia, and as far as Latin America.  (Photo by Jean Chung/Getty Images) Foto: Getty Images
Jakarta -

Ramai di media sosial seorang fans Kpop yang berniat menuntut seseorang lantaran dinilai menghina idolanya. Kasus ini banyak dibicarakan warganet dan tidak sedikit yang menganggapnya berlebihan.

Ekspresi cinta dari seorang fans pada sang idola tentu banyak bentuknya. Mulai dari mengirimkan hadiah, membeli merchandise resmi, sampai rela bepergian ke luar negeri untuk menonton konser sang idola.

Namun ada juga fans yang sangat terobsesi sampai mempengaruhi dirinya dan menganggap idola bagian dari kehidupannya. Di Korea Selatan sendiri, fans seperti ini dijuluki 'sasaeng' karena sampai nekat menerobos masuk ke rumah idolanya hanya demi berfoto.

Perilaku obsesi seperti ini oleh psikolog kerap disebut celebrity worship syndrome. Dikutip dari Psychology Today, di kalangan akademis, istilah CWS pertama kali digunakan oleh Lynn McCutcheon dan rekan penelitiannya pada awal 2000-an.

Istilah ini digunakan untuk menunjukkan suatu gejala abnormal ketika kekaguman pada seorang selebriti berubah menjadi ketertarikan dan keasyikan obsesif.

Masih belum diketahui penyebab sindrom tersebut. Namun menurut studi di 2018, faktor yang dapat meningkatkan peluang individu mengidap kondisi tersebut adalah sering melamun tentang sang idola, terobsesi ingin menjadi terkenal, dan perilaku kompulsif seperti penggunaan internet yang berlebihan.

Bukti menunjukkan bahwa kesehatan mental yang buruk berkorelasi dengan pemujaan selebriti. Para peneliti telah meneliti hubungan antara pemujaan selebriti dan kesehatan mental dalam sampel orang dewasa Inggris.

Satu studi menemukan bukti yang menunjukkan bahwa dimensi pemujaan selebriti pribadi yang intens terkait dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi. Demikian pula, penelitian lain pada tahun 2004, menemukan bahwa dimensi pemujaan selebriti pribadi yang intens tidak hanya terkait dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi, tetapi juga tingkat stres dan pengaruh negatif.

Dr John Maltby yang pernah meneliti tentang CWS dan dipublikasikan di Journal of Nervous and Mental Disease mengatakan ada tiga kategori mengenai kondisi tersebut. Terberat ketika fans sudah soliter, impulsif, antisosial dan kerap kali malah merepotkan.

"Mereka merasa memiliki ikatan khusus dengan selebriti idolanya dan percaya bahwa selebriti tersebut juga tahu tentang mereka. Mereka bahkan siap mati untuk selebriti yang dianggap pahlawannya," jelas Dr Maltby.



Simak Video "Bagaimana Cara Menangani Gangguan Bipolar?"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/naf)