Kamis, 19 Mei 2022 16:17 WIB

Stroke: Jenis, Gejala, dan Pengobatannya

Sarah Oktaviani Alam - detikHealth
Penelitian Ungkap 1 Sendok Teh Rempah Ampuh Turunkan Resiko Stroke Mengetahui penyebab, gejala, hingga pengobatan stroke. (Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto/Vadzim Kushniarou)
Jakarta -

Stroke adalah kondisi saat pembuluh darah di otak pecah dan berdarah, atau terjadi penyumbatan suplai darah ke otak. Pecah atau penyumbatan ini mencegah darah dan oksigen mencapai jaringan otak.

Dikutip dari Healthline, tanpa oksigen, sel-sel otak serta jaringan menjadi rusak dan mulai mati dalam beberapa menit. Kondisi ini membutuhkan perawatan medis sesegera mungkin. Maka dari itu, diperlukan tindakan dini untuk mengurangi kerusakan otak dan komplikasi lainnya.

Penyebab Stroke

Dikutip dari Mayo Clinic, ada dua faktor utama penyebab stroke, yaitu arteri yang tersumbat (stroke iskemik) dan kebocoran atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik).

Beberapa orang mungkin hanya mengalami gangguan sementara pada aliran darah ke otak yang dikenal sebagai serangan iskemik transien (TIA). Namun, gejalanya tidak bertahan lama.

Jenis Stroke

Stroke Iskemik

Stroke iskemik adalah jenis stroke yang paling umum yang terjadi saat pembuluh darah otak menyempit atau tersumbat. Ini menyebabkan aliran darah sangat berkurang (iskemia).

Pembuluh darah yang tersumbat atau menyempit ini disebabkan oleh timbunan lemak yang menumpuk di pembuluh darah atau oleh bekuan darah, atau kotoran lain yang mengalir melalui aliran darah. Kondisi ini paling sering terjadi di jantung dan bersarang di pembuluh darah di otak.

Beberapa penelitian awal menunjukkan bahwa infeksi COVID-19 dapat meningkatkan risiko stroke iskemik. Namun, ini masih membutuhkan penelitian lebih lanjut.

Stroke Hemoragik

Stroke hemoragik terjadi saat pembuluh darah di otak bocor atau pecah. perdarahan otak ini bisa terjadi akibat banyak kondisi yang mempengaruhi pembuluh darah. Faktor-faktor yang berhubungan dengan stroke hemoragik meliputi:

  • Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol
  • Pengobatan berlebihan dengan pengencer darah (antikoagulan)
  • Tonjolan di titik lemah di dinding pembuluh darah Anda (aneurisma)
  • Trauma (seperti kecelakaan mobil)
  • Deposit protein pada dinding pembuluh darah yang menyebabkan kelemahan pada dinding pembuluh darah (cerebral amyloid angiopathy)
  • Stroke iskemik yang menyebabkan perdarahan
  • Penyebab perdarahan yang kurang umum di otak adalah pecahnya jalinan pembuluh darah berdinding tipis yang tidak teratur (malformasi arteriovenosa).

Serangan Iskemik Transien (TIA)

Serangan iskemik transien (TIA) atau dikenal sebagai ministroke adalah periode gejala sementara yang mirip dengan stroke. TIA ini tidak menyebabkan kerusakan yang permanen.

TIA ini disebabkan oleh bagian otak yang dapat berlangsung hanya selama lima menit. Seperti stroke iskemik, TIA terjadi saat gumpalan atau puing-puing mengurangi atau menghalangi aliran darah ke bagian dari sistem saraf.

Gejala Stroke

Gejala stroke terjadi saat hilangnya aliran darah ke otak merusak jaringan di dalam otak. Gejala ini muncul di bagian tubuh yang dikendalikan oleh otak yang rusak.

Semakin cepat pasien stroke mendapat perawatan, akan memberikan hasul yang baik. Berikut gejala stroke yang dikutip dari Healthline yang wajib diperhatikan:

  • Kelumpuhan
  • Mati rasa atau kelemahan pada lengan, wajah, dan kaki, terutama di satu sisi tubuh
  • Kesulitan berbicara atau memahami orang lain
  • Bicara cadel
  • Kebingungan, disorientasi, atau kurang responsif
  • Perubahan perilaku yang tiba-tiba, terutama peningkatan agitasi
  • Masalah penglihatan, seperti kesulitan melihat pada satu atau kedua mata dengan penglihatan menghitam atau kabur, atau penglihatan ganda
  • Kesulitan berjalan
  • Kehilangan keseimbangan atau koordinasi
  • Pusing
  • Sakit kepala parah yang tiba-tiba dengan penyebab yang tidak diketahui
  • Kejang
  • Mual atau muntah
  • Faktor Risiko Stroke
  • Banyak faktor yang bisa meningkatkan risiko stroke. Itu terdiri dari faktor gaya hidup, faktor medis, dan faktor lainnya.

Faktor Gaya Hidup

  • Kelebihan berat badan atau obesitas
  • Ketidakaktifan fisik
  • Minum berat atau pesta minuman keras
  • Penggunaan obat-obatan terlarang seperti kokain dan metamfetamin

Faktor Risiko Medis

  • Tekanan darah tinggi
  • Merokok atau paparan asap rokok
  • Kolesterol Tinggi
  • Diabetes
  • Apnea tidur obstruktif
  • Penyakit kardiovaskular, termasuk gagal jantung, cacat jantung, infeksi jantung atau irama jantung yang tidak teratur, seperti fibrilasi atrium
  • Riwayat pribadi atau keluarga stroke, serangan jantung atau serangan iskemik transien
  • Infeksi COVID-19

Faktor Risiko Lainnya

Usia

Orang yang berusia 55 tahun atau lebih bisa berisiko mengalami stroke lebih tinggi, dibandingkan orang yang usianya lebih muda.

Jenis Kelamin

Stroke lebih berisiko terjadi pada wanita. Wanita yang lebih tua lebih besar kemungkinannya meninggal akibat stroke, jika dibandingkan pria.

Hormon

Penggunaan pil KB atau terapi hormon yang mencakup estrogen meningkatkan risiko stroke.

Pengobatan Stroke

Metode pengobatan stroke disesuaikan dengan jenis dan tingkat keparahan kondisi stroke yang dialami pasien. Berikut penjelasannya:

Stroke Iskemik

Pengobatan stroke ini bertujuan untuk mengemballikan kondisi aliran darah ke otak agar normal kembali. Beberapa metode yang bisa dilakukan yaitu:

Suntikan rtPA

Suntikan rtPA (recombinant tissue plasminogen activator) diberikan melalui infus. Tujuannya untuk mengembalikan kondisi aliran darah menuju otak. Suntikan ini bisa diberikan dokter dalam waktu 3-4,5 jam setelah gejala pertama muncul.

Obat Antiplatelet

Antiplatelet atau obat pengencer darah, seperti aspirin, bisa diberikan untuk mencegah pembekuan darah.

Obat Antikoagulan

Obat antikoagulan, seperti heparin, biasanya diberikan kepada pasien stroke dengan gangguan irama jantung. Obat ini juga berfungsi untuk mencegah pembekuan darah.

Obat Antihipertensi

Obat antihipertensi diberikan untuk mengendalikan tekanan darah. Jenis yang diberikan seperti ACE inhibitor, alpha-blocker dan beta-blocker, diuretik thiazide, atau obat antagonis kalsium.

Statin

Dokter juga akan memberikan obat golongan statin, seperti atorvastatin, untuk menurunkan kadar kolesterol yang tinggi.

Operasi Endarterektomi Karotis

Ini diperlukan untuk mencegah stroke berulang. Dengan prosedur ini, tumpukan lemak yang menghambat arteri karotis di leher pasien akan dibuang. Namun, metode ini tidak disarankan untuk pasien yang memiliki riwayat penyakit jantung.

Angioplasti

Teknik ini dilakukan dengan cara memasukkan kateter melalui pembuluh darah di pangkal paha, dan selanjutnya diarahkan ke arteri karotis.

Stroke Hemoragik

Pengobatannya bertujuan untuk mengurangi tekanan pada otak dan mengontrol perdarahan. Penanganannya seperti:

Obat-obatan

Pasien bisa diberikan obat untuk mengurangi tekanan di otak, menurunkan tekanan darah pasien, dan mencegah kejang. Jika pasien mengkonsumsi obat pengencer darah, dokter akan memberikan transfusi faktor pembekuan atau obat-obatan untuk melawan efek obat pengencer darah tersebut.

Operasi

Metode ini dilakukan untuk mengurangi tekanan dalam otak dan memperbaiki pembuluh darah yang pecah, jika memungkinkan.

Serangan Iskemik Transien (TIA)

Pengobatan jenis stroke ini dilakukan dengan mengendalikan faktor risiko yang bisa memicunya. Tergantung pada penyebabnya, dokter akan memberikan obat untuk mencegah penggumpalan darah atau melakukan prosedur angioplasti.



Simak Video "Ini Ternyata Tanda-tanda Stroke"
[Gambas:Video 20detik]
(sao/naf)