Jumat, 20 Mei 2022 07:00 WIB

Bicara Kewenangan Organisasi, IDI Samakan PDSI Seperti Ormas Dokter Lain

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
Profile Ketua IDI dr. Adib Khumaidi, SpOT. saat rapat dengar pendapat di DPR RI Ketua IDI dr Adib Khumaidi, SpOT (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI) belakangan menjadi sorotan lantaran disebut-sebut menjadi pesaing Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Ketua Umum PDSI Brigjen TNI (Purn) dr Jajang Edi Priyanto bahkan sebelumnya menekankan dokter yang ingin bergabung wajib keluar dari IDI.

Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr Moh Adib Khumaidi, SpOT tak mempersoalkan kemunculan PDSI. Ia juga tak melarang jika anggotanya berminat keluar dari IDI. Namun, dr Adib menegaskan satu-satunya organisasi profesi dokter yang memiliki wewenang adalah IDI, dalam hal ini memberikan rekomendasi izin praktik.

"Bahwa munculnya perkumpulan dokter itu bukan hanya PDSI, dari dulu juga sudah ada. Ada perkumpulan dokter NU ada perhimpunan dokter yang besar-besar. Dalam konteks itu sebagai ormas seperti hal yang lainnya, bahwa bicara demokrasi, maka kita tidak bisa melarang," beber dr Adib dalam konferensi pers, Kamis (19/5/2022).

"Tapi pada saat kita bicara ada kewenangan sebagai organisasi profesi, itu kemudian yang membedakan IDI dengan ormas yang lain. Walaupun itu menyebut sebagai rumah dokter," tandasnya.

Berdirinya IDI diperkuat dengan UU Praktik Kedokteran No 29 Tahun 2004 dan putusan Mahkamah Konstitusi No 10/PUU-XV/2017 yang menyatakan satu-satunya organisasi profesi dokter di Indonesia adalah IDI.

Menurutnya, bila hadir dua organisasi profesi dalam satu negara, hal itu bisa merugikan pasien lantaran adanya standar ganda terkait kode etik hingga pelayanan.

"Dan di dalam proses kenapa itu muncul dan mengapa itu dituangkan, maka ada hal-hal yang berkaitan dengan masalah standar etik, standar kompetensi, kemudian standar pelayanan yang itu bukan hanya di Indonesia saja. Secara dunia, di world medical association bahwa yang namanya national association medical di satu negara itu tunggal," jelasnya.

"Karena mempunyai kepentingan untuk berkaitan dengan dualisme yang itu malah akan memicu terjadinya double standard dan itu akan merugikan masyarakat, itu mengapa untuk kedokteran seperti itu," pungkas dia.



Simak Video "Bicara soal Organisasi di Luar IDI, Ketua IDI Singgung PDSI?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/up)