Jumat, 27 Mei 2022 12:40 WIB

Vaksin Nusantara Masuk Jurnal Internasional, Singgung Uji Klinis

Khadijah Nur Azizah - detikHealth
Eks Menkes dr Terawan Agus Putranto hadiri rapat kerja bersama Komisi IX DPR. Ia turut pamerkan Vaksin Corona Nusantara yang disebut aman untuk digunakan warga. Penggagas vaksin Nusantara dr Terawan. (Foto: Rengga Sancaya)
Jakarta -

Riset tentang Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto diterbitkan dalam jurnal internasional bertajuk 'Dendritic cell vaccine as a potential strategy to end the COVID-19 pandemic. Why should it be Ex Vivo?'.

Peneliti utama vaksin Nusantara Kolonel Jonny menyebut terbitnya artikel terkait vaksin besutan Terawan di jurnal internasional menandakan vaksin COVID-19 tersebut tak perlu diragukan lagi kualitasnya.

"Ini menunjukkan bahwa artikel mengenai Vaksin Nusantara dengan judul "Dendritic cell vaccine as a potential strategy to end the COVID-19 pandemic. Why should it be Ex Vivo?" ini kualitasnya tidak perlu diragukan karena sudah direview oleh para ahli dari berbagai negara di dunia," ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (27/5/2022).

Jurnal tersebut menulis tentang sel dendritik yang dapat menginduksi kekebalan luas dan jangka panjang untuk infeksi Sars-COV-2. Selain itu, sel dendritik juga disebut memainkan peran penting dalam patogenesis COVID-19, menjadikannya target vaksinasi potensial.

Namun ada beberapa hal lain yang juga disinggung dalam publikasi tersebut, salah satunya terkait uji klinis. Penulis studi menjelaskan mengenai adanya biaya yang cukup tinggi jika vaksin berbasis sel dendritik ini diproduksi secara massal.

Meski disebut bisa menginduksi kekebalan jangka panjang, profil keamanan dari pendekatan tersebut harus tetap melalui uji klinis.

Kendala uji klinis vaksin Nusantara

Sejak awal pengembangannya, sejumlah kontroversi dikaitkan dengan vaksin Nusantara. Vaksin yang akhirnya disepakati menjadi terapi berbasis penelitian itu didukung banyak pejabat, tetapi sempat tersendat di izin uji klinis BPOM RI lantaran tak memenuhi kaidah standar penelitian.

Hingga saat ini Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM) juga belum memberikan izin emergency use of authorization pada vaksin Terawan selayaknya vaksin COVID-19 lain.



Simak Video "Lihat Lagi Klaim Terawan Soal Vaksin Nusantara Diakui Dunia"
[Gambas:Video 20detik]
(kna/up)