ADVERTISEMENT

Senin, 30 Mei 2022 16:30 WIB

Wanti-wanti Epidemiolog soal Virus Hendra, Angka Kematian Tinggi

Nafilah Sri Sagita K - detikHealth
4K Resolution, Accidents and Disasters, Aggression, Backgrounds Wanti=wanti epidemiolog soal virus Hendra. (Foto: Getty Images/iStockphoto/blackdovfx)
Jakarta -

Muncul varian baru virus Hendra yang diidentifikasi peneliti Australia dari Griffith University. Hal ini dikhawatirkan menjadi babak baru pandemi selanjutnya.

Terlebih, menurut epidemiolog Universitas Airlangga Laur Navika, angka kematian atau case fatality rate virus Hendra pada manusia relatif tinggi yakni 50 persen. Karenanya, ia mengimbau masyarakat wajib mengetahui cara virus Hendra menular.

"Kotoran atau urine kelelawar yang jatuh pada rumput makanan kuda dapat menyebabkan kuda terinfeksi virus Hendra. Manusia dapat terinfeksi virus ini bila terpapar cairan atau droplet dari kuda yang terinfeksi virus Hendra," kata dia dalam keterangan tertulis, dikutip detikcom Senin (30/5/2022).

Laura menjelaskan, penularan virus Hendra dari kuda ke manusia lebih mudah terjadi ketimbang transmisi kelelawar ke manusia. Bukan tanpa alasan, menurutnya hal ini dikarenakan kuda dan manusia sama-sama makhluk mamalia.

"Juga khususnya kepada orang-orang yang memiliki kontak langsung kepada hewan ternak seperti kuda, harus menjaga higienitas dan sanitasi lingkungan hewan ternak," imbuhnya.

Ia mengimbau untuk rutin mencuci tangan sebelum makan dan tidak menyentuh T-Zone di wajah yang menjadi upaya pencegahan.

Vaksin Virus Hendra

Laura mengingatkan virus Hendra bukanlah virus baru dan sudah memiliki vaksin meskipun masih terbatas pada hewan. Karenanya, vaksinasi bisa dilakukan secara optimal demi mencegah infeksi meluas.

Ia menceritakan pertama kali virus Hendra diisolasi pada 1994 silam di Brisbane, Australia.

"Saat itu ditemukan kematian kuda dan manusia akibat virus ini. Setelah diselidiki lebih lanjut, virus Hendra bersifat zoonosis yang artinya bisa berpindah dari hewan ke hewan, maupun hewan ke manusia," jelas dia.

Meski belum ditemukan di Indonesia, Laura tetap mewanti-wanti masyarakat untuk tetap waspada.



Simak Video "Apakah Virus Langya Berpotensi Jadi Pandemi Selanjutnya?"
[Gambas:Video 20detik]
(naf/fds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT