ADVERTISEMENT

Selasa, 31 Mei 2022 15:15 WIB

Hari Tanpa Tembakau Sedunia

Wamenkes Beberkan Alasan Utama Perokok Susah Sekali untuk Berhenti

Vidya Pinandhita - detikHealth
Cigarette butts in pulmonary contour and text world no tobacco day on white background Foto: Getty Images/iStockphoto/pepifoto
Jakarta -

Prevalensi konsumsi rokok di Indonesia terpantau menurun. Namun begitu, jumlah perokok meroket bertambah hingga 8 juta perokok dalam 10 tahun terakhir. Namun rupanya seiring temuan tersebut, mayoritas orang dewasa yang kini merokok sebenarnya punya rencana untuk berhenti merokok. Lantas, apa penyebab para perokok sulit berhenti?

Data dari Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021 menyebut sebanyak 63,4 persen orang dewasa yang saat ini merokok berencana atau mempertimbangkan untuk berhenti merokok. Sementara itu, 38,9 persen perokok yang mengunjungi penyedia layanan kesehatan dalam 12 bulan terakhir dianjurkan untuk berhenti merokok.

Seiring temuan tersebut, Wakil Menteri Kesehatan RI Dante Saksono Harbuwono menguak tantangan bagi para perokok yang hendak berhenti merokok. Menurutnya, perkara berhenti merokok bukan hanya perihal kemauan, melainkan juga faktor patofisiologis.

"Faktor adiktif itu sulit dikendalikan. Sekali merokok, untuk menghentikannya rokok butuh upaya. Itu bukan soal kemauan, tapi memang faktor adiktif di dalam rokok itu membahayakan," bebernya saat ditemui detikcom di konferensi pers Peluncuran Data GATS 2021, Jakarta Selatan, Selasa (31/5/2022).

"Dia tidak bisa mengendalikan untuk berhenti merokok. Karena tidak bisa mengendalikan patofisiologis, maka keinginan untuk belanja rokok semakin lama semakin banyak," sambung Dante.

Terkait sulitnya berhenti merokok Dante menyebut, pengeluaran biaya rumah tangga untuk rokok lebih besar dibandingkan pengeluaran untuk makanan bergizi. Imbasnya bukan hanya pada sisi ekonomi, melainkan juga kesehatan anak-anak atau anggota keluarga di rumah yang terpapar asap rokok.

"Pengeluaran belanja rumah tangga untuk rokok itu lebih tinggi daripada belanja untuk makanan bergizi. Bayangkan, makanan bergizi bisa mencukupi kebutuhan keluarga, dipakai bapak atau ibunya untuk membeli rokok. Lebih tinggi budget-nya dibandingkan keperluan rumah tangga," jelas Dante.

Terlebih berdasarkan temuan GATS, sebanyak 59,3 persen atau setara 121,6 juta orang dewasa terpapar asap rokok di rumah. Bersamaan itu, 44,8 persen atau setara 20,3 juta orang dewasa terpapar asap rokok di area tertutup dan tempat kerja, sementara 74,2 persen atau setara 56,1 juta orang dewasa terpapar asap rokok saat mengunjungi tempat makan.



Simak Video "Kemenkes Ungkap Uang Belanja Rokok Lebih Tinggi Daripada Makanan Bergizi"
[Gambas:Video 20detik]
(vyp/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT