Senin, 13 Jun 2022 06:30 WIB

COVID-19 DKI Naik Gara-gara Kemasukan BA.4 dan BA.5? Tunggu Dulu, Ini Datanya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Operasi disinfeksi Corona dengan menyemprotkan cairan disinfektan dilakukan di kawasan Monas. Hal itu dilakukan untuk sterilisasi lokasi jelang dibuka kembali. COVID-19 di DKI (Foto: Grandyos Zafna)
Jakarta -

Kasus COVID-19 di DKI Jakarta mengalami peningkatan, berbarengan dengan kabar temuan Omicron BA.4 dan BA.5. Benarkah peningkatan terjadi karena subvarian baru?

Kepala Laboratorium Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas, dr Andani Eka Putra, meragukan anggapan tersebut. Berdasarkan data dan kronologi, kecil kemungkinan masuknya BA.4 dan BA.5 adalah pemicu kenaikan kasus.

Berdasarkan kronologi yang tercatat, kasus pertama BA.5 di DKI Jakarta didapat dari pengambilan sampel pada 15 Mei 2022 meski hasil sequencing-nya baru dilaporkan pada 6 Juni. Sementara itu, tambahan 2 kasus BA.5 didapatkan lagi pada 23 Mei, dan 1 kasus BA.4 pada 2 Juni.

"Artinya dari 15 Mei sampai 2 Juni ini ada 52 sampel yang kita lakukan whole genome sequencing (WGS) di BPOM. Logika kita adalah kalau misalnya BA.5 itu sudah ada 15 Mei, kasusnya sudah mulai menyebar. Kasusnya sudah mulai banyak," papar dr Andani dalam webinar Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Minggu (12/6/2022).

"Tapi kenyataannya tidak. Selama 15 Mei hingga 2 Juni, sekitar 17 hari, itu ternyata BA.5 tambahananya hanya 2 kasus," jelas dr Andani yang juga merupakan staf ahli Kementerian Kesehatan RI.

Dari data yang ada hingga saat ini, dr Andani berkesimpulan bahwa subvarian yang dominan saat ini masih BA.2. Karena dari 52 sampel baru ditemukan 2 kasus BA.4 dan BA.5 dari, maka saat ini ia meyakini tidak ada kaitan antara peningkatan kasus di DKI dengan masuknya subvarian BA.4 dan BA.5.

NEXT: Ada 3 kasus lokal BA.5 di DKI Jakarta.

Selanjutnya
Halaman
1 2