ADVERTISEMENT

Selasa, 14 Jun 2022 09:01 WIB

Fakta-fakta Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5, Masa Inkubasi hingga Gejala

Suci Risanti Rahmadania - detikHealth
SDN Jati 01 Pagi, Pulo Gadung, Jakarta Timur, gelar swab PCR massal yang diikuti para guru. Hal itu dilakukan guna cegah penyebaran Corona di lingkungan sekolah Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 (Foto: Pradita Utama)
Jakarta -

Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 disebut sebagai 'biang kerok' kasus COVID-19 di Indonesia mengalami kenaikan. Saat ini sudah terdeteksi di Bali dan DKI Jakarta, tiga di antaranya adalah imported case kedatangan luar negeri, sedangkan lima lainnya adalah kasus transmisi lokal.

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyebut tiga kasus impor itu berasal dari Mauritania, Amerika, dan Brasil.

"Sudah ada 8 kasus di Indonesia. 3 di antaranya adalah imported case kedatangan luar negeri dari Mauritius, Amerika, dan Brasil saat acara Global Platform for Disaster Risk di Bali," terangnya dalam siaran langsung 'Keterangan Pers Menteri Terkait Rapat Terbatas Evaluasi PPKM', Senin (13/6/2022).

"Sisanya 5 adalah kasus transmisi lokal. 4 terdeteksi di Jakarta dan 1 terdeteksi di Bali tapi yang bersangkutan adalah tenaga media juga yang datang dari Jakarta," sambungnya.

Berikut fakta-fakta subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang perlu diketahui.

Masa Inkubasi Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5

Dalam kesempatan yang berbeda, dr Adria Rusli, SpPK dari RSPI Sulianti Saroso menjelaskan bahwa masa inkubasi subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 lebih cepat daripada Omicron asli (BA.1) dan Delta.

Seseorang yang terinfeksi subvarian ini bisa mengalami gejala berupa batuk hingga sakit menelan dalam waktu dua sampai tiga hari. Tidak seperti Omicron dan Delta yang biasanya membutuhkan waktu sampai lima atau tujuh hari.

"BA.4 sama BA. 5 ini lebih cepat gejalanya. Jadi, setelah dia terinfeksi, dua, tiga hari dia bergejala," tuturnya dalam acara podcast Radio Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), Senin (13/6/2022).

"Biasanya yang Omicron dan Delta di hari ke-5 atau ke hari ke-7 dia baru timbul gejala. Tapi ini cepat banget, setelah kontak, dua atau tiga hari timbul batuk, timbul sakit menelan, diduga lebih cepat bermanifestasi klinisnya," lanjutnya.

Di sisi lain, Ketua Pokja Infeksi Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) dr Erlina Burhan juga berpendapat yang serupa. Ia menyebut masa inkubasi subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 hanya membutuhkan satu sampai tiga hari saja. Meskipun demikian, masa pemulihannya disebut lebih cepat, sehingga masyarakat tak perlu khawatir.
"Masa inkubasinya cepat 1 sampai 3 hari langsung bergejala, tapi nggak perlu khawatir karena recoverynya (penyembuhan) juga cepat. Para ahli sepakat bahwa laporan-laporan dari berbagai negara gejalanya hampir sama, dianggap lebih menular dari BA.2," kata dr Erlina dalam diskusi daring, Minggu (12/6/2022).

Gejala Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5

dr Erlina menjelaskan, gejala subvarian Omicron BA.4 atau BA.5 umumnya mirip dengan Omicron BA.1 atau strain aslinya, sehingga gejala seperti pilek dan batuk kerap dirasakan oleh pengidapnya.

"Jadi ini gejalanya mirip-mirip Omicron BA.1 yang dominan di Indonesia," kata dr Erlina Burhan dalam diskusi daring, Minggu (12/5/2022).

Berikut gejala subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 yang paling sering dilaporkan:

  • Batuk: 89 persen
  • Fatigue atau kelelahan: 65 persen

Gejala subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 lainnya, yaitu:

Hidung tersumbat atau rinore: 59 persen

  • Demam: 38 persen
  • Mual atau muntah: 22 persen
  • Sesak napas: 16 persen
  • Diare: 11 persen
  • Anosmia atau ageusia: 8 persen

Siapa yang Bisa Terkena Reinfeksi?

Subvarian Omicron BA.4 dan BA.5 disebut-sebut dapat memicu reinfeksi pada orang-orang yang sebelumnya pernah terinfeksi COVID-19.

Ketua Umum Perhimpunan Alergi Imunologi Indonesia, Prof Dr dr Iris Rengganis, SpPD, K-AI, menyebut risiko reinfeksi terbilang lebih tinggi pada kondisi imunitas yang menurun karena faktor usia. Kondisi ini dikenal juga sebagai immunosenescence.

"Reinfeksi biasanya terjadi pada orang yang memang memang punya komorbid, lansia, karena sistem imunnya sudah lebih menurun," jelasnya dalam diskusi virtual, Senin (13/6/2022).

Pada lansia, imunitas tidak seratus persen memberikan perlindungan sebagaimana saat masih lebih muda. Bahkan ketika sudah mendapatkan vaksin booster, lansia tetap menghadapi risiko reinfeksi.

Karenanya, Prof Iris menyarankan para lansia untuk tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat meski sudah booster. Sebisa mungkin tidak bepergian keluar kota jika tidak benar-benar ada kebutuhan yang penting dan mendesak.

"Faktor anak-anak di bawah 5 tahun, dan lansia di atas 60 tahun, ditambah lagi komorbid, itu lebih mempermudah lagi reinfeksi," tandas Prof Iris.



Simak Video "WHO: 110 Negara Alami Lonjakan Covid-19 Akibat BA.4 dan BA.5"
[Gambas:Video 20detik]
(suc/kna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT