ADVERTISEMENT

Minggu, 19 Jun 2022 07:01 WIB

Misteri Asal-usul Pandemi Black Death Terungkap, DNA Kuno Jadi Petunjuknya

AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Blood cells, molecule of DNA forming inside the test tube. 3D illustration, conceptual image of science and technology. Sampel DNA kuno mengungkap asal-usul Black Death (Foto: Getty Images/iStockphoto/ktsimage)
Jakarta -

Pandemi black death yang berlangsung di abad ke-14 masih menyisakan misteri. Sampel DNA kuno dari sebuah pemakaman di Jalur Sutera memberi petunjuk tentang asal-usul wabah paling mematikan dalam sejarah tersebut.

Para ilmuwan yang meneliti menyimpulkan bahwa sebuah wilayah di utara Kyrgyzstan sebagai titik awal persebaran bubonic plague alias wabah black death. Mereka menemukan jejak bakteri Yersinia pestis di gigi 3 wanita yang terkubur di lembah Chu, dekat danai Issyk Kul di kaki gunung Tian Shan.

Jejak tersebut diperkirakan berasal dari periode tahun 1338-1339. Sementara itu, kematian paling awal terdokumentasikan di tempat lain yakni pada 1346.

"Temuan kami bahwa black death bermula dari Asia Tengah di tahun 1330-an mengakhiri debat selama berabad-abad," kata Philips Slavin dari University of Stirling di Skotlandia, dikutip dari Reuters.

Jalur Sutera di masa lalu merupakan rute berbagai kereta yang membawa banyak barang dari China ke berbagai penjuru benua, termasuk ke Konstantinopel dan Persia. Diyakini, pandemi meluas dengan menumpang kereta-kereta tersebut.

"Ada beberapa hipotesis yang berbeda bahwa pandemi bermula dari Asia Timur, khususnya China, di Asia Tengah di India, atau di tempat wabah pertama terdokumentasikan pada 1346 di wilayah Laut Hitam dan Laut Kaspia," kata Maria Spyrou dari University of Tubingen di Jerman.

"Kita tahu bahwa perdagangan mungkin menjadi faktor penentu persebaran pes ke Eropa pada awal Black Death. Cukup beralasan untuk membuat hipotesis bahwa proses serupa menentukan persebaran penyakit dari Asia Tengah ke Laut Hitam antara 1338-1346," jelasnya.

Black death merupakan salah satu pandemi paling mematikan dalam sejarah. Diperkirakan wabah ini membunuh 50-60 persen populasi Eropa Barat dan 50 persen di Timur Tengah, mencakup 5-60 juta kematian. Sejumlah besar kematian tercatat di Kaukakus, Iran dan Asia Tengah.



Simak Video "Epidemiolog: Status Pandemi Dicabut Bukan Akhir dari Covid-19"
[Gambas:Video 20detik]
(up/up)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT