Rabu, 22 Jun 2022 17:00 WIB

Diperpanjang Jadi 6 Bulan di RUU KIA, Ini Durasi Cuti Hamil di 10 Negara Maju

Mochammad Fajar Nur - detikHealth
Ibu Hamil Foto ilustrasi: Getty Images/iStockphoto
Jakarta -

Cuti melahirkan 6 bulan yang tertuang dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA) telah disepakati oleh DPR untuk dibahas lebih lanjut menjadi undang-undang. Kesepakatan itu diambil dalam Rapat Badan Legislasi DPR pada Kamis (9/6/2022) lalu.

Menurut Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dr Hasto Wardoyo, SpOG pertimbangan cuti melahirkan menjadi 6 bulan sangat cocok secara biologis.

"Ini pertimbangan sangat biologis, butuh kesehatan pulih secara sempurna pasca melahirkan, baik darahnya kembali normal, atau tubuhnya yang tadinya gemuk setelah melahirkan, hingga risiko keamanan," ujarnya dalam konferensi virtual, Selasa (21/6/2022).

Hasto menyatakan beberapa negara maju telah menerapkan cuti hamil dengan waktu yang lama. Hal ini menurutnya bisa jadi rekomendasi untuk dikaji agar implementasinya di Indonesia berjalan lancar.

"Negara-negara seperti Bulgaria dia 58 minggu, Yunani 43 minggu, Inggris 39 minggu, Slovakia, Krosia, Chili, Hongaria, dan Selandia Baru. Memang negara maju yang memberikan perhatian baik," sambungnya.

Dikutip dari World Population Review, berikut ini 10 negara dengan durasi cuti hamil terlama:

  • Bulgaria (58,6 minggu)
  • Yunani (43 minggu)
  • Inggris Raya (39 minggu)
  • Slovakia (34 minggu)
  • Kroasia (30 minggu)
  • Chili (30 minggu)
  • Republik Ceko (28 minggu)
  • Irlandia (26 minggu)
  • Hongaria (24 minggu)
  • Selandia Baru (22 minggu)

Menurut dr Hasto negara-negara tersebut memiliki angka kematian ibu dan bayi cukup rendah.

"Memang negara maju butuh dikaji, dan angka kematian ibu dan bayi cukup rendah di negara-negara tersebut," ujarnya.

Ia menambahkan, menurutnya inisiasi suami juga mendapatkan cuti melahirkan 40 hari memang dinilai cukup panjang dibandingkan negara lain.

"Untuk keluhan suami terlalu panjang, memang di negara lain tidak sampai 40 hari. Seperti Estonia cuti melahirkan suami 14 hari, Slovenia ayahnya cuma 12 hari namun semuanya tetap digaji penuh," bebernya.

Menurutnya pertimbangan suami diberikan cuti menemani istri melahirkan ini sudah tepat berdasarkan kondisi biologis yang akan dialami istri setelah melahirkan.

"Secara biologis memang seperti itu, kalau 40 hari terlalu lama bisa 2 minggu sebelum melahirkan dan sesudah melahirkan," pungkasnya.



Simak Video "Strategi Menkes Budi Tekan Angka Kematian Pada Ibu Melahirkan"
[Gambas:Video 20detik]
(mfn/up)